Sumbawanews.com,- Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto resmi diangkat sebagai dosen tetap di Universitas Bung Karno (UBK), Jakarta. Pengangkatan itu diumumkan Hasto usai menyampaikan kuliah umum bertajuk “Pemikiran Geopolitik Bung Karno” dalam rangka peringatan 27 tahun berdirinya kampus yang dinamai setelah Presiden Pertama Republik Indonesia, Sukarno.
Dalam kesempatan itu, Hasto mengungkapkan bahwa dirinya akan mengampu mata kuliah geopolitik dan pemikiran politik Bung Karno, dengan cakupan lintas fakultas—mulai dari ilmu politik hingga ekonomi. Ia menekankan bahwa kurikulum yang akan ia sampaikan tidak hanya berbasis teori, tetapi juga mengintegrasikan prinsip-prinsip kepemimpinan strategis yang menjadi fokus penelitian doktoral keduanya di Universitas Indonesia.
“Ini bukan sekadar penghargaan, tapi tanggung jawab intelektual,” ujar Hasto. “Kita perlu menghidupkan kembali kerangka berpikir Bung Karno yang sistematis, bukan sekadar simbolis, agar Indonesia bisa merespons dinamika global dengan kecerdasan strategis.”
Hasto juga menyinggung relevansi ajaran geopolitik Sukarno dalam konteks kebijakan luar negeri saat ini. Ia menilai, siklus geopolitik yang digagas Bung Karno—dengan prinsip bebas-aktif, kemandirian, dan peran aktif sebagai fasilitator perdamaian—dapat menjadi panduan bagi Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat posisi Indonesia sebagai kekuatan netral di tengah ketegangan kawasan, khususnya di Timur Tengah.
“Bung Karno tidak bergerak acak. Ia punya siklus: membangun kekuatan nasional, memperkuat solidaritas Global Selatan, lalu memainkan peran mediasi. Ini bukan sejarah mati, tapi peta jalan,” tegasnya.
Pengangkatan Hasto sebagai dosen tetap ini menandai perpaduan antara politik dan akademik yang langka di Indonesia. Sebagai salah satu arsitek ideologi PDI-P dan penjaga warisan Bung Karno, Hasto diharapkan mampu menghadirkan perspektif kritis dan kontekstual bagi mahasiswa yang belajar di kampus yang secara historis menjadi simbol nasionalisme dan pemikiran progresif.
Universitas Bung Karno, yang didirikan pada 2000, sejak awal memang berkomitmen mengajarkan nilai-nilai kebangsaan berbasis pemikiran Sukarno. Kini, dengan kehadiran Hasto sebagai dosen tetap, kampus ini semakin memperkuat posisinya sebagai ruang intelektual tempat ideologi dan realitas politik bertemu—bukan sebagai dogma, tapi sebagai alat analisis untuk masa depan.

















