Malam di pesisir Benete selalu menyajikan pemandangan yang mudah membuat orang jatuh hati. Dari bibir pantai, sambil menyeruput kopi hangat, mata akan dimanjakan oleh deretan cahaya yang memantul di permukaan laut. Lampu-lampu kawasan industri tambang berkelap-kelip tanpa henti. Kapal-kapal berukuran raksasa silih berganti bersandar, menurunkan berbagai kebutuhan operasional tambang. Di kejauhan, kapal pengangkut gas LNG ikut menambah kesan bahwa roda ekonomi tak pernah berhenti berputar.
Bagi orang yang baru pertama kali datang ke Kecamatan Maluk, Kabupaten Sumbawa Barat, pemandangan itu mudah melahirkan kesimpulan: masyarakat di kawasan lingkar tambang tentu hidup berkecukupan.
Anggapan seperti itu bukan hal baru bagi saya. Saat masih menempuh kuliah di Pulau Jawa, banyak teman beranggapan bahwa hidup di daerah tambang identik dengan gaji besar, pekerjaan melimpah, dan kesejahteraan yang merata. Seolah-olah kemakmuran hadir untuk semua orang.
Namun, kenyataan sering kali memiliki sisi yang tidak tampak dari kejauhan.
Baca Juga: Masyarakat Menanggung Beban Lingkungan di Wilayah Lingkar Tambang
Meningkatnya aktivitas ekonomi selalu diikuti oleh pertumbuhan penduduk. Ribuan orang datang mencari pekerjaan dan penghidupan yang lebih baik. Bersamaan dengan itu, volume sampah juga meningkat, baik dari aktivitas domestik maupun kegiatan penunjang pertambangan.
Sebagian besar orang hanya melihat bagaimana sampah itu diangkut menuju Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Jarang yang bertanya, apa yang terjadi setelah truk terakhir membuang muatannya.
Pertanyaan itulah yang membawa saya menemui Sudarli.
—–
Pagi itu, asap tipis masih mengepul dari tumpukan sampah di TPA Jajong. Bau menyengat bercampur debu putih memenuhi udara. Di antara hamparan sampah yang menghitam akibat pembakaran, seorang pria bertopi lusuh tampak berjalan perlahan sambil membawa sebatang besi yang ujungnya dibengkokkan seperti pengait.
Namanya Sudarli, 56 tahun.
Pria asal Jereweh itu bukan orang asing bagi dunia pertambangan. Bertahun-tahun lalu, ia pernah bekerja ketika perusahaan itu masih bernama PT Newmont Nusa Tenggara, sebelum berganti menjadi PT Amman Mineral Nusa Tenggara.
Kini, kehidupannya justru bergantung pada benda-benda yang telah dibuang.
Dengan pengait besinya, Sudarli mengorek sisa-sisa sampah yang baru saja terbakar. Sesekali ia berhenti ketika menemukan logam yang masih memiliki nilai jual.
“Selain botol plastik, gelas plastik, dan kardus, kadang ada juga besi atau tembaga. Besi dan tembaga memang harganya tinggi, tetapi jarang ditemukan. Yang paling sering kami dapat tetap botol air minum kemasan dan kardus,” ujarnya.
Setiap hari ia bergelut dengan asap pembakaran, bau busuk, lalat, dan tumpukan sampah yang bercampur menjadi satu. Kondisi yang bagi banyak orang sulit dibayangkan, justru telah menjadi bagian dari rutinitas hidupnya.
Baginya, sampah bukan sekadar limbah.
Sampah adalah sumber penghidupan.
Lebih dari itu, ia melihat sesuatu yang sering luput dari perhatian banyak orang.
“Sampah yang masuk ke TPA sebenarnya masih bisa dimanfaatkan kalau sejak awal dipilah. Banyak yang masih punya nilai ekonomi,” katanya.
Pandangan itu lahir bukan dari ruang rapat atau seminar tentang lingkungan, melainkan dari pengalaman bertahun-tahun berdiri di atas tumpukan sampah.
Menurut Sudarli, masyarakat terlalu sibuk mengejar pekerjaan di sektor tambang, sementara persoalan sampah dianggap selesai ketika sudah dibuang.
“Kebanyakan orang fokus bekerja di tambang. Kalau sampah tidak dikelola dengan baik, lama-lama justru akan merusak lingkungan,” tuturnya.
Ia sadar, apa yang dilakukannya setiap hari hanya setetes air di tengah derasnya sampah yang terus berdatangan ke TPA. Jumlah sampah yang masuk jauh lebih besar dibandingkan yang mampu ia selamatkan.
Di sisi lain, Kecamatan Maluk hingga kini belum memiliki fasilitas pengolahan sampah domestik yang memadai. Sistem pengelolaan masih didominasi pola lama: jemput, angkut, lalu buang ke TPA.
Akibatnya, usia TPA semakin pendek, sementara potensi ekonomi dari sampah ikut terkubur bersama timbunan limbah.
Sudarli tidak berbicara tentang teknologi canggih atau investasi bernilai miliaran rupiah. Harapannya sederhana.
“Sudah saatnya Kecamatan Maluk memiliki fasilitas pengolahan sampah domestik. Biar sampah tidak semuanya berakhir di TPA. Jadi, keberadaan tambang bukan hanya diukur dari pertumbuhan ekonominya, tetapi juga dari bagaimana lingkungan ikut dijaga,” katanya.
Di tengah gemerlap lampu kawasan tambang yang setiap malam memantul di laut Benete, Sudarli menghabiskan harinya di antara asap, debu, dan sampah.
Dua dunia itu hanya dipisahkan beberapa kilometer.
Yang satu menjadi simbol kemajuan.
Yang lain mengingatkan bahwa kemajuan akan selalu memiliki sisi yang jarang terlihat dan sering kali dipikul oleh mereka yang bekerja dalam sunyi.
Barangkali, dari tangan seorang pemulung bernama Sudarli, kita belajar bahwa kesejahteraan sebuah wilayah tidak hanya diukur dari terang cahaya industrinya, melainkan juga dari bagaimana ia memperlakukan sampah yang ditinggalkannya. (Alimuddin)















