Sumbawanews.com,- Nilai tukar rial Iran jatuh ke titik terendah dalam sejarah, menyentuh angka 2 juta per dolar AS pada akhir Agustus 2026, memicu krisis kehidupan sehari-hari bagi jutaan warganya. Kondisi ini diperparah oleh sanksi ekonomi Amerika Serikat dan perang yang meletus antara AS-Israel dengan Iran sejak 28 Februari 2026, yang memutus rantai pasokan, menghancurkan produksi lokal, dan memblokir pelabuhan Iran. Harga kebutuhan pokok melonjak drastis—tomat naik 71 persen, ayam 74 persen, dan minyak goreng hingga 177 persen—sedangkan obat-obatan seperti insulin melonjak 642 persen dan susu formula bayi naik 95 persen.
Keluarga-keluarga Iran kini berjuang hanya untuk bertahan hidup. Afsaneh, ibu berusia 35 tahun di Teheran, mengatakan pengeluaran mingguan keluarganya meningkat 20 hingga 30 persen, sementara biaya penitipan anak harian mencapai 5 juta rial atau setara US$2,5. Di Hormozgan, nelayan berusia 28 tahun bernama Salama mengaku belanja mingguan kebutuhan pangan yang dulu hanya 500.000 toman kini harus dibiayai 5 juta toman. Upah minimum nasional yang ditetapkan pemerintah sebesar 166 juta rial—kurang dari US$82—tidak mampu mengejar laju inflasi, membuat banyak warga memotong konsumsi daging, bahkan menghilangkan obat-obatan sederhana seperti parasetamol dari daftar belanja.
Pelaku usaha juga terjepit. Zamir, pemilik toko fesyen pria di Teheran, mengatakan penjualannya anjlok 40 persen dibanding tahun lalu, dan hampir semua biaya operasional—dari upah pekerja hingga bahan baku—naik drastis. Ia memprediksi banyak toko akan gulung tikar sebelum akhir musim dingin. Bahkan biaya transportasi harian, kopi, dan rokok saja kini menghabiskan minimal 700.000 hingga 800.000 toman per hari, tanpa mempertimbangkan kebutuhan rumah tangga. Krisis ini bukanlah hasil baru, melainkan puncak dari tekanan ekonomi bertahun-tahun yang kini meledak akibat konflik bersenjata dan isolasi internasional.















