Sumbawanews.com,- Operasi penyelamatan terus berlangsung di perbatasan Nepal dan Tibet setelah banjir bandang dahsyat yang terjadi pada 26 Agustus 2026 menewaskan 292 orang dan membuat lebih dari 1.300 orang hilang. Bencana yang dipicu oleh runtuhnya gletser Himalaya sejauh 20 kilometer timur laut perlintasan Rasuwa-Rasuwagadhi menghantam Sungai Bhotekoshi, memicu gelombang air, es, dan bebatuan yang menghancurkan permukiman, jembatan, dan jalur transportasi utama. Di Nepal, 289 korban tewas terkonfirmasi dan 826 orang masih belum ditemukan, sementara otoritas China melaporkan tiga korban jiwa dan 558 orang hilang di Tibet. Ribuan wisatawan, termasuk ratusan warga asing dari India, Amerika Serikat, dan Ukraina, menjadi korban karena sedang mengikuti perjalanan ziarah Masarovar Yatra di kawasan terdampak.
Pemerintah Nepal telah menetapkan tiga distrik—Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading—sebagai wilayah krisis bencana selama tiga bulan. Tim penyelamat menggunakan helikopter, drone, dan alat berat untuk mengevakuasi korban dan mencari yang masih terjebak, sementara tentara Nepal dikerahkan secara masif. Di sisi Nepal, 644 wisatawan dilaporkan hilang, dengan rincian 178 dari India, 65 dari AS, dan 53 dari Ukraina. Di Tibet, 260 warga asing termasuk dalam daftar orang hilang, dan 100 warga China juga belum ditemukan di sisi Nepal. Kerusakan infrastruktur mencapai 19 jembatan dan 40 kilometer jalan raya, memperparah akses ke lokasi bencana. Menteri Luar Negeri Nepal, Shisir Khanal, memperingatkan risiko tinggi di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli, terutama di Distrik Nuwakot, Dhading, Gorkha, dan Chitwan, yang menjadi wilayah dengan korban terbanyak—Chitwan mencatat 64 jiwa tewas. Pemerintah Nepal juga meminta warga yang terjebak menyalakan api atau menghasilkan asap sebagai sinyal lokasi. India dan China telah mengirim bantuan kemanusiaan, termasuk pesawat pengangkut logistik dan tim penyelamat, sementara Bank Dunia turut berkoordinasi untuk mendukung upaya pemulihan.















