Denpasar, sumbawanews.com– Garis Kemiskinan merupakan suatu nilai pengeluaran minimum kebutuhan makanan dan bukan makanan yang harus dikeluarkan untuk memenuhi kebutuhannya. Penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan.
Pada periode Maret 2025–Maret 2026, Garis Kemiskinan Provinsi Bali, baik perkotaan
dan perdesaan cenderung meningkat, begitu juga halnya dengan Garis Kemiskinan Makanan dan Garis kemiskinan Bukan Makanan.
Menurut data BPS Provinsi Bali yang dilihat pada 24 Agustus 2026, Garis Kemiskinan pada Maret 2026 tercatat sebesar Rp675.354,- per kapita per bulan. Dibandingkan kondisi September 2025, nilai tersebut naik sebesar 5,03 persen, sementara jika dibandingkan Maret 2025 terjadi kenaikan sebesar 11,11
persen.
Dengan memperhatikan komponen Garis Kemiskinan (GK), yang terdiri dari Garis
Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis Kemiskinan Bukan Makanan (GKBM), bahwa peranan komoditas makanan masih jauh lebih besar dibandingkan peranan
komoditas bukan makanan kata BPS. Adapun besarnya sumbangan GKM terhadap GK pada Maret 2026 sebesar 69,17 persen, sementara besaran sumbangan GKBM terhadap GK sebesar 30,83 persen sambung data BPS.
Beberapa komoditas kembali menjadi komoditas yang memberikan sumbangan besar pada Garis Kemiskinan Maret 2026, seperti beras, rokok kretek filter, dan daging ayam ras, dan lain-lain. Pada Maret 2026, beras memberikan sumbangan sebesar 21,74 persen di perkotaan dan 26,80 persen di perdesaan. Selain beras, terdapat komoditas rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, kue basah, roti, bawang merah, kopi bubuk dan kopi instan (sachet), tongkol/tuna/cakalang, dan cabe rawit yang paling memengaruhi Garis Kemiskinan di perkotaan. Sedangkan di perdesaan, Garis Kemiskinan dipengaruhi oleh
komoditas beras, rokok kretek filter, daging ayam ras, telur ayam ras, roti, bawang merah, kue basah, cabe rawit, kopi bubuk dan kopi instan (sachet), serta tongkol/tuna cakalang.
Pada komoditas bukan makanan, komoditas yang berpengaruh pada pembentukan
Garis Kemiskinan di perkotaan pada Maret 2026 adalah perumahan, bensin, listrik, upacara agama atau adat lainnya, dan pendidikan. Sedangkan di perdesaan, komoditas bukan makanan yang berpengaruh pada pembentukan Garis Kemiskinan adalah perumahan, bensin, upacara agama atau adat lainnya, listrik, dan perlengkapan mandi.

(Zainuddin)















