Sumbawanews.com,- Jakarta – Sebanyak 12 orang tewas dalam insiden penembakan brutal yang terjadi di permukiman kumuh Cleveland, Johannesburg, Afrika Selatan, Jumat (12/6/2026). Kejadian yang berlangsung dalam hitungan menit itu memicu kepanikan di lingkungan padat penduduk, di mana korban terjatuh di jalan, di depan rumah, bahkan di dalam toko-toko kecil yang masih buka saat serangan terjadi.
Menurut laporan otoritas setempat, pelaku menyerang secara acak dengan senjata api, menembaki warga tanpa pandang bulu. Sebagian besar korban adalah warga sipil biasa—termasuk ibu rumah tangga, pekerja harian, dan remaja yang baru pulang sekolah. Tidak ada klaim tanggung jawab dari kelompok mana pun, namun polisi menduga insiden ini terkait dengan konflik antar geng yang memanas akhir-akhir ini di kawasan tersebut.
Pihak berwenang langsung mengerahkan pasukan keamanan untuk mengamankan lokasi dan menutup akses jalan utama menuju Cleveland. Tim medis berlari dari satu mayat ke mayat lain, sementara warga yang selamat berteriak memanggil nama keluarga mereka di tengah asap dan kekacauan. Sejumlah kamera pengawas di sekitar lokasi berhasil merekam jejak pelaku yang kabur menggunakan mobil hitam tanpa plat.
Gubernur Gauteng, Panyaza Lesufi, menyatakan duka mendalam dan menjanjikan penyelidikan menyeluruh. “Ini bukan sekadar kekerasan kriminal. Ini adalah serangan terhadap nyawa manusia yang tak bersalah. Kami tidak akan membiarkan rasa takut menguasai kota ini,” ujarnya dalam konferensi pers darurat.
Insiden ini kembali mengungkap akar masalah struktural di Afrika Selatan: ketimpangan sosial, pengangguran tinggi di kalangan pemuda, dan lemahnya penegakan hukum di kawasan pinggiran kota. Cleveland, yang dulu dikenal sebagai kawasan industri, kini menjadi simbol kemiskinan terstruktur—tempat di mana kekerasan sering kali menjadi jawaban atas ketidakadilan.
Pemerintah pusat telah menginstruksikan Kepolisian Nasional Afrika Selatan untuk membentuk tim khusus, sementara masyarakat sipil menggelar doa bersama dan unjuk rasa damai di luar kantor polisi setempat. Sejumlah organisasi hak asasi manusia menyerukan reformasi keamanan yang mendalam, bukan hanya penangkapan pelaku, tapi juga solusi jangka panjang untuk menghentikan siklus kekerasan yang terus berulang.
Sampai berita ini diturunkan, identitas pelaku masih dalam penyelidikan. Namun, satu hal sudah jelas: di balik angka 12 korban, ada 12 keluarga yang kehilangan cahaya mereka—dan sebuah kota yang kembali bertanya: sampai kapan?

















