Sumbawanews.com,- Seekor beruang cokelat liar memicu kepanikan massal di Kota Utsunomiya, Jepang, setelah berkeliaran bebas selama beberapa hari di tengah pemukiman padat hingga area kampus. Warga diimbau tetap di dalam rumah, sementara pemerintah setempat terpaksa menutup seluruh sekolah negeri selama dua hari demi menjamin keselamatan siswa dan staf.
Ketegangan memuncak ketika satwa tersebut terlihat mendekati halaman sekolah dasar dan bahkan masuk ke area taman kampus universitas, memaksa petugas kehutanan dan polisi bersenjata melakukan operasi pengepungan. Tim tanggap darurat menggunakan kamera thermal, drone, dan jebakan berbau makanan untuk melacak pergerakan beruang yang diperkirakan berbobot lebih dari 200 kilogram.
Setelah berburu selama 48 jam, beruang akhirnya berhasil ditangkap tak jauh dari pinggiran hutan di wilayah utara kota pada Selasa sore. Petugas mengonfirmasi bahwa hewan itu dalam kondisi sehat, tanpa luka signifikan, dan akan segera dipindahkan ke pusat konservasi alam di wilayah Tohoku, tempat ia akan hidup dalam lingkungan alami yang aman.
Kepala Dinas Kehutanan Utsunomiya, Takashi Morita, menyatakan bahwa kejadian ini merupakan yang paling serius dalam lima tahun terakhir. “Kami tidak pernah membayangkan beruang akan muncul sejauh ini ke pusat kota. Perubahan iklim dan kelangkaan makanan alami di hutan kemungkinan besar mendorongnya mencari sumber makanan di permukiman,” ujarnya.
Warga yang sempat merekam kejadian itu melaporkan suara beruang menggonggong dan menghancurkan tempat sampah, bahkan ada yang melihatnya berdiri di atas dua kaki di depan rumah mereka. Sejumlah warga mengaku mengalami trauma, terutama orang tua dan anak-anak yang sehari-hari beraktivitas di luar rumah.
Pemerintah kota kini merencanakan pemasangan pagar listrik di perimeter hutan yang berbatasan dengan permukiman, serta kampanye edukasi soal cara menghindari konflik dengan satwa liar. Langkah ini diambil menyusul meningkatnya frekuensi kejadian serupa di berbagai wilayah Jepang, terutama di prefektur pegunungan yang mengalami pemanasan suhu dan penurunan populasi biji-bijian alami yang menjadi makanan utama beruang.
Meski insiden ini berakhir tanpa korban jiwa, otoritas memperingatkan: “Kehidupan manusia dan satwa liar tidak bisa lagi dipisahkan. Kita harus belajar hidup berdampingan—dengan waspada, bukan dengan ketakutan.”

















