Sumbawanews.com,- Teheran — Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) meluncurkan 12 rudal balistik menargetkan pangkalan udara al-Azraq di Yordania, Kamis (12/6/2026), dan mengklaim berhasil menghancurkan sejumlah pesawat tempur canggih milik Amerika Serikat, termasuk F-16, F-15, dan F-35, serta fasilitas militer strategis di lokasi tersebut. Pernyataan resmi IRGC, yang dikutip oleh Mehr News, menyebut serangan ini sebagai balasan atas serangan udara AS terhadap infrastruktur sipil dan militer Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Rudal-rudal yang diluncurkan dari wilayah dalam Iran ditembakkan secara serentak, menghantam hanggar pesawat dan pusat kendali yang digunakan untuk menempatkan dan memelihara jet-jet tempur AS. Menurut IRGC, serangan ini bukan hanya respons taktis, tetapi juga sinyal politik bahwa Teheran tidak akan tinggal diam terhadap “agresi berkelanjutan” yang dilancarkan oleh kekuatan asing di kawasan.
Dalam pernyataannya, IRGC memuji “keimanan dan keteguhan rakyat Iran” yang telah bertahan selama lebih dari 100 hari dalam situasi tekanan militer dan ekonomi internasional. “Operasi ini adalah bagian dari rangkaian tindakan yang akan terus berlanjut selama kejahatan musuh belum berhenti,” demikian bunyi pernyataan resmi yang dirilis oleh komando udara IRGC.
Pangkalan al-Azraq, yang terletak di wilayah timur Yordania, merupakan salah satu basis utama AS di Timur Tengah untuk mendukung operasi intelijen, pengintaian, dan serangan udara terhadap kelompok yang dianggap sebagai ancaman oleh Washington—termasuk di wilayah Irak dan Suriah. Keberadaannya telah lama menjadi sasaran retorika agresif dari para pemimpin militer Iran.
Meskipun klaim IRGC belum dapat diverifikasi secara independen oleh media internasional atau pihak berwenang Yordania, gambar satelit dan laporan dari sumber lokal menunjukkan adanya ledakan besar dan kerusakan signifikan di area hanggar pangkalan pada Senin (8/6/2026), beberapa hari sebelum pernyataan resmi Iran dikeluarkan.
Pemerintah Yordania, yang secara resmi tetap menjaga hubungan diplomatik dengan AS, belum memberikan komentar resmi mengenai insiden tersebut. Namun, sumber keamanan di Amman mengonfirmasi bahwa pihaknya sedang melakukan evaluasi mendalam terhadap kerusakan infrastruktur dan potensi ancaman keamanan lanjutan.
Serangan ini memperdalam ketegangan di kawasan, yang sebelumnya sudah dipicu oleh serangkaian serangan balasan Iran terhadap target militer AS di Irak, serta serangan udara Israel terhadap fasilitas nuklir dan militer Iran. Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga mengumumkan operasi “Nasr” yang menjanjikan serangan berkelanjutan terhadap Israel dengan drone dan rudal dalam jangka waktu tujuh hari.
Analisis keamanan regional memperingatkan bahwa eskalasi ini berpotensi memicu siklus balas dendam yang sulit dihentikan, terutama jika AS memutuskan untuk merespons dengan serangan balik yang lebih besar. Sementara itu, para diplomat di PBB mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri, menyatakan bahwa “kawasan ini sudah terlalu dekat dengan ambang perang total.”
Dengan klaim keberhasilan serangan rudal ini, IRGC kembali menegaskan posisinya sebagai kekuatan militer non-state yang mampu menyerang jauh di luar batas wilayahnya—dan mengubah peta kekuatan di Timur Tengah menjadi medan permainan yang semakin tidak terduga.

















