Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026, Tokyo — Brasil nyaris terperosok di babak 32 besar, tertinggal 0-1 dari Jepang di babak pertama. Tapi di ruang ganti, satu kalimat dari Carlo Ancelotti mengubah segalanya. “Kami akan mencetak gol. Tidak masalah kapan, yang penting kita percaya,” ujar Gabriel Martinelli, mengutip kata-kata pelatih asal Italia itu.
Ketenangan Ancelotti justru menjadi obat penenang di tengah kepanikan tim Samba. Tanpa teriakan atau perintah mendadak, ia meyakinkan para pemain bahwa permainan mereka sudah benar—hanya butuh kesabaran dan keyakinan. “Dia tidak marah. Dia hanya percaya pada kami. Dan itu membuat kami tenang,” tambah Martinelli.
Babak kedua pun berubah. Brasil bangkit dengan serangan lebih terstruktur, memanfaatkan umpan silang dan kecepatan sayap. Pergantian strategis—menurunkan Endrick menggantikan Lucas Paqueta yang cedera—memperkuat tekanan di depan. Gol penyeimbang dicetak oleh Vinícius Júnior, diikuti gol kemenangan dari Rodrygo pada menit ke-78. Skor 2-1 menjadi bukti nyata dari keberhasilan mental tim.
Ancelotti, yang kini memimpin Brasil di usia 67 tahun, tak pernah menganggap kekalahan sementara sebagai bencana. “Dalam sepak bola, kesalahan adalah hal biasa. Yang tidak biasa adalah kehilangan keyakinan,” katanya usai laga. “Kami tidak berhenti bermain. Kami hanya menunggu momen yang tepat. Dan momen itu datang.”
Jepang, yang tampil sangat terorganisir dan penuh intensitas, tak mampu bertahan di babak kedua. Tekanan berkelanjutan Brasil memaksa pertahanan Samurai Blue kelelahan, dan kecerdikan taktis Ancelotti menjadi kunci balik kemenangan.
Martinelli, yang menjadi salah satu ujung tombak serangan, mengaku kalimat sang pelatih bukan sekadar motivasi—tapi pernyataan keyakinan yang mengubah cara tim memandang tekanan. “Dia tidak bilang ‘kita harus menang’. Dia bilang ‘kita akan mencetak gol’. Ada perbedaan besar. Yang pertama membebani. Yang kedua membebaskan.”
Dengan kemenangan ini, Brasil melangkah ke babak 16 besar sebagai tim yang lebih matang, lebih tenang, dan lebih berbahaya—semua berkat seorang pelatih yang tak pernah berteriak, tapi selalu membuat pemainnya mendengar.















