Home Serba Serbi Tekno Agen AI dan Ekstensi Browser Jadi Jalur Baru Serangan Siber Perusahaan

Agen AI dan Ekstensi Browser Jadi Jalur Baru Serangan Siber Perusahaan

Sumbawanews.com,- Integrasi teknologi kecerdasan buatan otonom dan ekstensi browser tanpa izin kini menjadi celah serius yang memungkinkan pencurian data perusahaan secara diam-diam, menurut laporan Akamai yang dirilis pada 10 Agustus 2026. Laporan State of the Internet (SOTI) ‘The Enterprise AI Usage Risk Report 2026’ mengungkap bahwa praktik shadow AI dan ekstensi berbahaya mampu melompati sistem keamanan konvensional yang dirancang untuk era transfer file dan email.

Vice President Enterprise Security Product & Engineering Akamai, Or Eshed, menjelaskan bahwa AI kini bukan sekadar alat bantu, melainkan “rekan kerja” yang memiliki akses langsung ke data sensitif perusahaan. Data perusahaan kini tersebar melalui jutaan prompt, akun pribadi tak terkelola, dan agen AI otonom yang beroperasi di luar pengawasan IT. Eshed menekankan bahwa pendekatan keamanan harus berubah dari sekadar memblokir AI menuju pengelolaan berkelanjutan terhadap alur operasionalnya.

Peneliti Akamai mengidentifikasi tiga vektor serangan baru: Vibe Hacking, yang memanipulasi file instruksi markdown lokal untuk mengelabui asisten coding AI; CursorJacking, di mana ekstensi browser mencuri API key, kode perusahaan, dan riwayat percakapan dari alat pemrograman seperti Cursor; serta CometJacking, teknik injeksi prompt tak langsung yang menyisipkan perintah jahat di halaman web publik, memicu agen AI lokal seperti Comet AI dari Perplexity untuk membocorkan file, email, atau kredensial sesi.

Untuk mengatasi ancaman ini, Akamai merekomendasikan lima strategi bagi Chief Information Security Officer (CISO): fokus pada 5% karyawan dengan interaksi AI tertinggi; membersihkan layanan AI liar melalui integrasi Single Sign-On; menerapkan analisis kontekstual real-time terhadap lalu lintas prompt dan aktivitas copy-paste; melakukan audit ketat terhadap ekstensi peramban dan IDE, mengingat 75% ekstensi AI meminta izin kritis dan 16,3% memiliki kerentanan CVE terdaftar; serta menerapkan prinsip least privilege pada agen AI otonom dengan memantau setiap otomatisasi yang berjalan atas nama staf.

Previous articlePerindo Maluku Barat Daya Gelar Pemeriksaan Kesehatan Gratis bagi Warga Pesisir
Next articleIraola Butuh Dukungan, Van Dijk Siap Jadi Tiang Penyangga