Sumbawanews.com,- Pada 20 September 1963, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy mengusulkan kerja sama antara AS dan Uni Soviet dalam misi pendaratan manusia ke Bulan. Pernyataan itu disampaikan Kennedy dalam pidatonya di Perserikatan Bangsa-Bangsa, di tengah membaiknya hubungan kedua negara pasca Krisis Rudal Kuba dan penandatanganan perjanjian larangan uji coba senjata nuklir di atmosfer. Ia mempertanyakan mengapa perjalanan pertama manusia ke Bulan harus menjadi persaingan nasional, dan menegaskan bahwa AS dan Uni Soviet bisa mencapai kesepakatan berdasarkan kepentingan bersama untuk menghindari kehancuran bersama.
Menteri Luar Negeri Uni Soviet, Andrei Gromyko, merespons pidato Kennedy dengan tepuk tangan dan menyebutnya sebagai “pertanda baik,” namun menolak memberi komentar lebih lanjut tentang usulan misi bersama tersebut. Di Washington, usulan itu mengejutkan banyak pihak, mengingat selama ini perlombaan antariksa menjadi simbol utama persaingan Perang Dingin. Beberapa pengamat menduga dorongan utama Kennedy bukanlah politik, melainkan pertimbangan ekonomi—biaya program pendaratan Bulan diperkirakan melebihi US$20 miliar, yang dianggap terlalu berat jika ditanggung sendiri.
Namun, rencana kolaborasi itu tidak sempat terealisasi. Dua bulan setelah pidato itu, pada 22 November 1963, Kennedy tewas ditembak di Dallas, Texas. Penggantinya, Lyndon B. Johnson, membatalkan usulan kerja sama dengan Uni Soviet, tetapi tetap melanjutkan program antariksa AS secara mandiri. Pada 1969, Amerika Serikat berhasil mendaratkan manusia di Bulan lewat misi Apollo 11, meraih kemenangan simbolis dalam perlombaan antariksa.














