Sumbawanews.com,- Pertandingan 32 besar Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Belgia dan Senegal di Stadion Seattle, Kamis (2/7/2026) dini hari WIB. Meski dijagokan banyak pihak sebagai tim unggulan, timnas Belgia menolak menganggap status favorit sebagai keunggulan mutlak.
Charles De Ketelaere, salah satu pemain kunci The Red Devils, menegaskan bahwa keyakinan diri dan kesiapan mental jauh lebih penting daripada prediksi odds atau peringkat statistik. “Bagi saya, tidak penting siapa yang dianggap favorit. Yang penting, kami percaya pada kemampuan sendiri dan tajam dalam menjalani laga ini,” ujar De Ketelaere, mengutip pernyataannya kepada Reuters.
Belgia, yang finis di posisi pertama Grup G dengan lima poin dari satu menang, dua seri, dan tanpa kekalahan, tampil konsisten meski tak mendominasi. Romelu Lukaku akhirnya mencetak gol pertamanya di turnamen ini, sementara Kevin De Bruyne terus menjadi otak permainan. Di sisi lain, Senegal—yang menempati posisi ketiga Grup I—mengandalkan kecepatan dan disiplin taktis, dengan Sadio Mane dan Idrissa Gueye menjadi tulang punggung lini tengah dan serangan.
Meski Oddschecker memberi peluang 3/5 bagi Belgia untuk lolos, De Ketelaere menekankan bahwa pengalaman laga sebelumnya melawan Mesir—yang berakhir imbang 1-1—telah mengajarkan timnya bahwa prediksi tak selalu berbanding lurus dengan realitas di lapangan. “Kemarin membuktikan bahwa menjadi favorit atau bukan, tidak ada artinya jika kita tidak fokus,” tambahnya.
Senegal, yang menang atas Irak 2-0 di laga terakhir fase grup, justru datang dengan semangat penuh percaya diri. Pelatih Aliou Cissé menekankan bahwa timnya tidak takut pada nama besar, melainkan siap memanfaatkan setiap celah yang ada.
Laga ini bukan sekadar benturan antara dua tim kuat, tapi juga ujian mental: antara kepercayaan pada reputasi versus keyakinan pada kerja sama tim. Di Seattle, bukan siapa yang diunggulkan yang akan menang, tapi siapa yang lebih siap membunuh waktu dan ruang.
Dengan skuad berlapis bakat dan pengalaman, Belgia berharap bisa melanjutkan tradisi kejayaan generasi emasnya. Namun, seperti yang diingatkan De Ketelaere: “Kami tidak bermain untuk menjadi favorit. Kami bermain untuk menang.”















