Sumbawanews.com,- Pada 25 Agustus 1944, Paris resmi dibebaskan dari pendudukan Nazi oleh Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis dan Divisi Infanteri ke-4 Amerika Serikat. Pasukan Sekutu menghadapi perlawanan ringan, sementara Jenderal Dietrich von Choltitz, komandan garnisun Jerman, menolak menjalankan perintah Adolf Hitler untuk menghancurkan kota dan bangunan bersejarahnya. Pada sore hari itu, Choltitz menandatangani surat penyerahan diri secara resmi. Dua hari kemudian, Jenderal Charles de Gaulle memimpin pawai kemenangan di Champs-Élysées.
Paris jatuh ke tangan Nazi pada 14 Juni 1940, setelah invasi Wehrmacht ke Prancis. Delapan hari kemudian, Prancis menandatangani gencatan senjata dan mendirikan pemerintahan boneka di Vichy. Namun, gerakan perlawanan tetap aktif, dan de Gaulle—dari pengasingan di London—terus memimpin Pasukan Prancis Merdeka. Divisi Lapis Baja ke-2 Prancis, yang dibentuk di London pada akhir 1943, ditugaskan khusus untuk membebaskan ibu kota. Pada Agustus 1944, divisi itu tiba di Normandia di bawah komando Jenderal Jacques-Philippe Leclerc dan bergabung dengan Angkatan Darat AS ke-3 pimpinan Jenderal George S. Patton.
Pada 18 Agustus, pasukan Sekutu sudah mendekati Paris, sementara warga dan pejuang perlawanan memulai pemberontakan. Panglima Tertinggi Sekutu, Dwight D. Eisenhower, awalnya merencanakan melewati Paris demi mempertahankan sumber daya militer. Namun, de Gaulle mendesak agar kota itu segera dibebaskan, khawatir faksi komunis akan mengambil alih kekuasaan jika Sekutu menunda serangan. Ia memperingatkan bahwa jika tidak diperintahkan, ia akan mengirim pasukannya sendiri. Pada 22 Agustus, Eisenhower menyetujui operasi pembebasan.
Pada 23 Agustus, Divisi Lapis Baja ke-2 bergerak dari utara, sementara Divisi Infanteri ke-4 mendekati dari selatan. Di dalam kota, von Choltitz memasang bahan peledak di jembatan dan monumen, tetapi menolak meledakkannya. Ia enggan menjadi tokoh sejarah yang menghancurkan “Kota Cahaya.” Pada 24 Agustus, pasukan Prancis berhasil menyeberangi Sungai Seine dan tiba di Hotel de Ville, jantung Paris, disambut ribuan warga yang membanjiri mereka dengan bunga, ciuman, dan anggur. Tepat sebelum tengah malam, kota itu sepenuhnya berada di tangan Sekutu.















