Sumbawanews.com,- Menyusul serangan udara Amerika Serikat terhadap target di wilayah selatan Iran, Teheran melancarkan balasan militer yang terkoordinasi dan luas. Pada Kamis (11/6/2026), Iran meluncurkan serangkaian rudal yang menghantam tiga titik strategis milik AS di Irak utara: Pangkalan Udara Harir, sebuah situs radar di wilayah Kurdistan, serta kapal-kapal perang di Selat Hormuz dan Teluk Persia.
Kantor berita Iran, Nour News, mengonfirmasi bahwa serangan ini merupakan respons langsung terhadap serangan AS yang terjadi sehari sebelumnya. Presiden Donald Trump sebelumnya menuduh Iran mengulur-ulur perundingan dan mengancam akan melancarkan serangan “berskala besar” terhadap republik Islam itu. Balasan Iran tidak hanya terbatas pada Irak—media lokal melaporkan ledakan di kota-kota pesisir Minab, Mohr, Bandar Abbas, dan Sirik, sementara sistem pertahanan udara aktif di ibu kota Tehran dan wilayah selatan.
Markas Besar Khatam al-Anbiya, komando militer Iran, mengumumkan penutupan total Selat Hormuz bagi semua kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial. “Klaim Amerika bahwa lalu lintas di Selat Hormuz bersifat normal adalah palsu,” tegas pernyataan resmi militer Iran, seperti dikutip situs The Cradle. Ancaman itu disertai peringatan keras: setiap kapal yang mencoba melintas akan menjadi sasaran.
Serangan ini memperdalam krisis energi global. Selat Hormuz, yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, kini terhenti total. Dampaknya langsung terasa di berbagai negara, termasuk Indonesia, di mana harga bensin jenis Pertamax melonjak akibat gangguan rantai pasok minyak.
Selain itu, Iran juga melaporkan pelanggaran wilayah udara oleh pesawat tempur F-16 AS di wilayah selatan. Respons militer Iran terhadap insiden ini menunjukkan sikap tegas: tidak hanya mempertahankan, tetapi juga memperluas operasi balasan ke wilayah-wilayah yang menjadi basis kekuatan AS di Timur Tengah.
Dengan serangan ini, ketegangan antara Iran dan AS memasuki fase paling kritis dalam beberapa tahun terakhir. Kedua pihak kini terperangkap dalam siklus balas-membalas yang berpotensi melebar ke seluruh kawasan. Dunia menahan napas—karena di balik ledakan rudal dan penutupan selat, bukan hanya keamanan regional yang dipertaruhkan, tetapi stabilitas energi global.

















