Home Berita Berita Utama Iran Tutup Selat Hormuz, Dunia Siap Hadapi Krisis Minyak

Iran Tutup Selat Hormuz, Dunia Siap Hadapi Krisis Minyak

Sumbawanews.com,- Teheran — Selat Hormuz kembali ditutup total oleh Iran, menyusul serangan balasan terhadap AS yang dilancarkan pada Rabu malam. Melalui Markas Besar Khatam al-Anbiya, Pasukan Revolusi Islam Iran (IRGC) secara tegas memperingatkan bahwa semua kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial, yang mencoba melintasi selat strategis itu akan dianggap sebagai target sah.

“Klaim Amerika Serikat bahwa lalu lintas maritim di Selat Hormuz tetap bebas adalah dusta,” demikian pernyataan IRGC yang dikutip media internasional *The Cradle*. Penutupan ini bukan sekadar simbolis—ini adalah respons militer terstruktur terhadap serangan udara dan rudal AS-Israel yang menargetkan tujuh titik pantai di wilayah selatan Iran, termasuk Bandar Abbas, Qeshm, Sirik, dan Pulau Hengam.

Sejak gencatan senjata sementara pada April lalu, lalu lintas di Selat Hormuz memang belum sepenuhnya pulih. Namun, penutupan total kali ini memutuskan arus energi global yang selama ini mengalir melalui koridor maritim paling vital di dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia—setara dengan 21 juta barel per hari—melewati selat ini. Dampaknya langsung terasa di pasar energi global: harga minyak mentah melonjak, dan di Indonesia, kenaikan harga BBM jenis Pertamax pun tak terhindarkan.

Dalam insiden terbaru, sistem pertahanan udara Iran berhasil menembak jatuh pesawat tempur F-16 AS yang diduga melanggar wilayah udara Teluk Persia. Pesawat itu dipaksa mundur setelah rudal permukaan-udara IRGC menghantamnya. Ledakan besar terdengar di sejumlah kota pesisir Iran, termasuk Minab dan Gorgan, akibat serangan balasan AS yang menargetkan infrastruktur militer dan radar di pulau-pulau strategis.

Pemblokiran Selat Hormuz ini adalah yang pertama sejak Februari 2026, ketika AS dan sekutunya melancarkan serangan besar-besaran terhadap fasilitas minyak dan rudal Iran. Kali ini, Teheran menegaskan bahwa setiap serangan akan dibalas “satu per satu”—sebuah peringatan yang mengacu pada sejarah panjang Iran dalam mempertahankan kedaulatan maritimnya di Teluk Persia.

Krisis ini memicu kecemasan di seluruh dunia. Negara-negara pengimpor minyak, dari Jepang hingga India, segera mengaktifkan rencana darurat strategis. Pasar energi global bergetar, dan Dewan Keamanan PBB diminta segera menggelar sidang darurat. Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa “Amerika tidak akan membiarkan teror maritim mengancam keamanan global,” namun belum mengumumkan langkah militer lebih lanjut.

Dengan Selat Hormuz kembali tertutup, dunia kembali berada di ambang kekacauan energi—dan kembali diingatkan: di tengah ketegangan geopolitik, satu selat kecil bisa mengguncang ekonomi dunia.

Previous articleGatot Soebroto Wafat, Piala Dunia Dibuka di Afrika
Next articleAHY, Dudung, dan Yahya Bantah Terlibat Korupsi MBG
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.