Sumbawanews.com,- Pemain tengah tim nasional Irlandia, Jamie McGrath, memperingatkan bahwa ketegangan politik seputar pertandingan melawan Israel bakal memanas menjelang laga resmi di Stadion Aviva, Dublin, pada 4 Oktober mendatang. Peringatan itu menyusul gangguan protes pro-Palestina yang menghentikan dua kali pertandingan persahabatan antara Irlandia dan Qatar di Dublin, yang berakhir dengan kemenangan 2-1 bagi tuan rumah.
Selama pertandingan, puluhan bola tenis berlambang bendera Palestina dilemparkan ke lapangan oleh para pengunjung, memaksa wasit menghentikan permainan sementara. Aksi ini bukan insiden terpisah, melainkan bagian dari gelombang protes yang semakin meluas di Irlandia terhadap partisipasi Israel dalam kompetisi sepak bola Eropa. Pemain-pemain top Irlandia, bersama sejumlah tokoh publik, sebelumnya telah menggalang kampanye boikot terhadap pertandingan Israel, meskipun Asosiasi Sepak Bola Irlandia (FAI) tetap berkomitmen menjalankan jadwal resmi—dengan memperingatkan bahwa penolakan bermain bisa berakibat sanksi disipliner.
Pertandingan melawan Israel sebenarnya akan berlangsung di Dublin, namun laga lain yang seharusnya menjadi kandang Israel pada 27 September akan dipindahkan ke lokasi netral, sebagai respons terhadap tekanan internasional dan kekhawatiran keamanan. Sementara itu, Qatar—yang bertanding melawan Irlandia dalam persiapan Piala Dunia 2026—kini tengah mempersiapkan laga pembuka melawan Swiss pada 13 Juni mendatang, sementara Irlandia gagal lolos ke ajang tersebut.
McGrath, yang tampil sebagai salah satu pemain kunci dalam laga melawan Qatar, mengakui bahwa para pemain berada di tengah pusaran konflik yang di luar kendali olahraga. “Kami tidak ingin berada di posisi itu,” ujarnya kepada BBC Northern Ireland. “Tapi kami harus mendengarkan suara mereka yang protes—selama protesnya damai. Itu hak mereka. Sekarang, yang harus bekerja adalah pihak-pihak yang lebih tinggi, agar ini bisa dimanfaatkan untuk kebaikan bersama.”
Ketegangan ini bukan baru muncul. Pada November tahun lalu, 93 persen anggota FAI memilih mendesak UEFA agar menghentikan keanggotaan Asosiasi Sepak Bola Israel dari kompetisi Eropa. Protes juga terus berlanjut di kancah politik: pada Selasa pekan ini, kelompok Ireland Palestine Solidarity Campaign menggelar aksi di Dáil Éireann, parlemen Irlandia.
Pelatih tim nasional, Heimir Hallgrímsson, sebelumnya pernah menyatakan bahwa timnya harus “memenangkan perang ini” melawan Israel dalam pertandingan mendatang—pernyataan yang memperdalam narasi politik di sekitar laga sepak bola. Ketika ditanya apakah ia yakin ada solusi sebelum laga berlangsung, McGrath menjawab jujur: “Jujur saja, saya tidak tahu. Kami sudah membahasnya beberapa hari lalu. Tapi saat semuanya memanas, mungkin keputusan akan diambil di luar kendali kami.”
Sebagai pemain, McGrath dan rekan-rekannya hanya ingin bermain sepak bola. Tapi di tengah gelombang solidaritas global terhadap Palestina, lapangan hijau kini menjadi medan pertarungan baru—di mana bola bukan satu-satunya yang ditendang.















