Sumbawanews.com,- Jakarta – Surat rahasia yang diduga ditulis oleh Mojtaba Khamenei, putra pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, bocor ke publik dan memperlihatkan deep rift di jantung kekuasaan Republik Islam. Surat itu, yang beredar luas di kalangan elit politik dan militer Iran, mengungkap ketegangan mendalam antara garis keras dan kelompok reformis, sekaligus mempertanyakan stabilitas kepemimpinan di tengah krisis ekonomi dan protes sosial yang tak kunjung reda.
Dalam surat berjudul “Pesan untuk Para Pemimpin” yang beredar di platform daring, Mojtaba — yang dikenal sebagai tokoh berpengaruh di balik layar dan dianggap sebagai calon penerus ayahnya — mengecam kegagalan sistem dalam menangani inflasi, pengangguran, dan korupsi struktural. Ia menulis, “Kita bukan sedang menghadapi protes rakyat, tapi kegagalan sistem yang telah kehilangan legitimasi moral.” Pernyataan itu dianggap sebagai serangan tak langsung terhadap aparatus keamanan dan jaringan bisnis yang mengendalikan ekonomi Iran.
Surat itu juga menyebut keputusan rezim untuk memperdalam ketergantungan pada Rusia dan China sebagai “strategi yang mengorbankan kedaulatan nasional demi kelangsungan regime.” Mojtaba menekankan perlunya reformasi politik yang inklusif, termasuk keterlibatan generasi muda dan oposisi moderat, sebuah posisi yang sangat jarang diungkapkan secara terbuka oleh anggota keluarga Khamenei.
Kemunculan surat ini memicu kegaduhan di Teheran. Sumber militer mengatakan, sejumlah jenderal senior telah mengadakan pertemuan darurat untuk menilai dampaknya terhadap disiplin internal. Sementara itu, kantor Ayatollah Khamenei belum memberikan komentar resmi, namun beberapa pejabat dekatnya dilaporkan memerintahkan penyelidikan atas kebocoran tersebut.
Analisis dari Institut Studi Timur Tengah di Jakarta menyebut surat ini sebagai “puncak gunung es” dari ketidakpuasan di dalam elit kekuasaan Iran. “Ini bukan hanya soal pemberontakan pribadi, tapi tanda bahwa bahkan orang-orang terdekat kekuasaan mulai meragukan arah negara,” ujar peneliti senior Dr. Rizal Fauzi.
Surat itu juga mengungkap bahwa Mojtaba pernah mengajukan rencana reformasi ekonomi kepada ayahnya pada 2021, tetapi ditolak karena dianggap “terlalu liberal.” Kini, dengan tekanan internasional yang semakin ketat dan rakyat yang semakin frustrasi, surat ini bisa jadi upaya terakhir untuk membangunkan sistem dari dalam.
Tidak ada yang tahu apakah Mojtaba akan muncul secara publik atau tetap berada di belakang layar. Tapi satu hal pasti: Iran, yang selama ini dianggap sebagai negara otoriter yang kohesif, kini menunjukkan retakan terdalam dalam sejarah modernnya — dan surat ini adalah bukti nyata bahwa perpecahan bukan lagi spekulasi, tapi realitas yang tak bisa diabaikan.















