Sumbawanews.com,- Meski mengalami nyeri hamstring yang sudah berlangsung sejak musim lalu, Declan Rice dinilai masih menjadi tulang punggung tak tergantikan bagi Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Mantan bek Liverpool, Jamie Carragher, menegaskan bahwa pelatih Thomas Tuchel tidak boleh mengistirahatkan gelandang berusia 27 tahun itu, bahkan meski kondisinya belum 100 persen.
Rice, yang menjadi salah satu pemain paling padat jam terbang di skuad Inggris—memainkan 63 laga sepanjang musim 2025/2026—ditarik keluar pada menit ke-72 saat Inggris menang 4-2 atas Kroasia di laga pembuka Grup L. Tuchel menyebut keputusan itu sebagai tindakan pencegahan, mengingat Rice telah mengalami ketegangan saraf di hamstring sejak Natal. Namun, Carragher menilai, dalam konteks Piala Dunia, tidak ada ruang untuk istirahat sembarangan.
“Di Piala Dunia, Anda tidak pernah mengistirahatkan pemain sekelas Declan Rice,” tegas Carragher dalam analisisnya yang dikutip Sky Sports. “Jika Inggris menang melawan Ghana, baru Anda bisa mempertimbangkan untuk memberinya istirahat di laga terakhir melawan Panama—dan itu pun hanya jika kualifikasi sudah pasti. Tapi sekarang? Tidak ada opsi itu.”
Carragher menekankan bahwa Rice bukan sekadar pemain yang andal secara fisik, tetapi juga pengatur ritme permainan dan penyeimbang lini tengah. “Dia salah satu gelandang terbaik di Liga Inggris. Cedera itu tidak menghancurkan performanya di Arsenal, dan tidak akan menghancurkan perannya di timnas. Menggantinya lebih awal melawan Kroasia mungkin bijak—tapi jangan sampai itu jadi awal dari pengurangan perannya.”
Dengan Inggris menghadapi Ghana pada Rabu (24/6) dini hari WIB, Carragher menyarankan agar Tuchel tetap mempercayakan Rice sebagai starter. “Jika ia bisa bertahan 70 menit, itu sudah cukup. Jika ia menunjukkan tanda kelelahan di babak kedua, baru gantikan. Tapi jangan biarkan ia duduk di bangku cadangan hanya karena takut.”
Kemenangan atas Ghana akan mengunci posisi Inggris sebagai juara grup, sekaligus memberi ruang strategis untuk memulihkan Rice sebelum babak knockout. Namun, Carragher mengingatkan: “Piala Dunia bukan liga. Ini adalah turnamen yang dimenangkan oleh mereka yang berani main dengan tim terbaik, bukan yang paling hati-hati.”
Dengan Rice sebagai wakil kapten dan salah satu pemain paling konsisten di skuad, keputusan Tuchel tak hanya soal fisik—tapi juga psikologis. Di tengah tekanan besar, kepercayaan pada pemain inti bisa jadi kunci keberhasilan Inggris mengejar gelar kedua mereka setelah 1966.















