Sumbawanews.com,- Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben-Gvir, memicu kemarahan internasional setelah menyatakan bahwa Lebanon seharusnya menjadi “taman bermain” bagi Israel — sebuah pernyataan yang dianggap sebagai ancaman eksistensial terhadap kedaulatan negara tetangga. Pernyataan kontroversial itu disampaikan Ben-Gvir dalam rapat fraksi Partai Otzma Yehudit di Knesset pada Senin, 22 Juni 2026, saat upaya diplomatik untuk mencapai gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah sedang berlangsung.
Dalam pidatonya, Ben-Gvir menolak segala bentuk kesepakatan damai dengan Lebanon, bahkan mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan menyampaikan penolakan tegas terhadap setiap rencana perdamaian. “Netanyahu harus memeluk Trump dan berkata: ‘Presiden, terima kasih. Tapi kami tidak bisa menyetujui perjanjian ini,’” ujar Ben-Gvir, seperti dikutip dari Middle East Eye.
Ia menegaskan bahwa Israel tidak akan pernah mentoleransi ancaman di perbatasannya, menyamakan keberadaan Hizbullah di Lebanon dengan keberadaan Nazi di perbatasan Eropa. “Anda tidak akan membiarkan tentara Anda diserang dan dibatasi dalam merespons. Respons kami harus 100 persen,” tegasnya.
Ben-Gvir tidak berhenti di situ. Ia mengancam bahwa jika Israel tidak merasa aman, maka ibu kota Lebanon, Beirut, akan berakhir seperti Beit Hanoun di Gaza — kota yang hancur lebur akibat serangan udara Israel dalam konflik berkepanjangan. “Persamaannya sederhana: Israel harus aman. Jika tidak, Beirut akan terlihat seperti Beit Hanoun.”
Pernyataan itu mengulangi ucapan sebelumnya di akhir pekan, di mana ia menyatakan bahwa “setetes air mata dari seorang ibu Israel” tidak bisa diterima, meski seribu air mata dari ibu-ibu Lebanon mengalir. “Kami akan terus melanjutkan,” katanya tanpa kompromi.
Dalam wawancara dengan Channel 14, Ben-Gvir memperluas visinya: seluruh Lebanon, menurutnya, tidak bisa dipisahkan dari Hizbullah karena kelompok itu memiliki perwakilan dalam pemerintahan Lebanon. “Karena itu, seluruh Lebanon adalah target,” ujarnya.
Pernyataan itu langsung memicu reaksi keras dari komunitas internasional. Uni Eropa menyebut ucapan Ben-Gvir sebagai “retorika yang tidak dapat diterima dan berbahaya”, sementara Inggris mendesak semua pihak untuk menghormati upaya gencatan senjata demi melindungi warga sipil. Pemerintah Lebanon mengecam keras pernyataan itu sebagai bentuk agresi ideologis yang mengancam stabilitas regional.
Sementara itu, serangan udara Israel di Lebanon selatan dan timur terus meningkat sejak 2 Maret 2026, menurut data Kementerian Kesehatan Lebanon, yang mencatat 3.798 orang tewas dan 11.781 lainnya terluka. Upaya mediasi AS dan Iran — yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar — semakin terhambat oleh keteguhan Israel untuk tidak menarik pasukannya dari wilayah perbatasan, meski mendapat tekanan dari G7.
Dengan sikap yang tak kenal kompromi, Ben-Gvir kini menjadi simbol paling ekstrem dari kebijakan keamanan Israel yang semakin mengarah pada pendekatan militeristik, mengabaikan jalur diplomasi yang tengah berusaha diperjuangkan oleh sekutu-sekutunya. Di tengah keheningan perundingan, pernyataannya bukan sekadar ucapan — ia adalah deklarasi perang ideologi, yang berpotensi mengubah peta konflik Timur Tengah selamanya.















