Sumbawanews.com,- Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menyatakan bahwa situasi di Selat Hormuz tidak akan kembali seperti sebelum perang, tepatnya sebelum 28 Februari 2026. Ia menekankan bahwa kesepakatan dengan Oman tidak otomatis membuka kembali jalur pelayaran seperti semula, melainkan menjadi dasar bagi pembentukan mekanisme baru yang menghormati kedaulatan Iran. Pembicaraan bilateral antara Teheran dan Muscat telah berlangsung sejak gencatan senjata pada 8 April 2026, dengan kunjungan pertama Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi ke Oman menjadi tanda seriusnya upaya kerja sama maritim. Baqaei menambahkan, jalur pelayaran masa depan akan ditentukan bersama oleh Iran dan Oman, bukan berdasarkan jalur utara atau selatan yang ada sebelumnya.
Baqaei menegaskan bahwa selama 22 hingga 23 hari pertama setelah kesepakatan, jalur utara Selat Hormuz sempat aman bagi kapal-kapal, namun sebelum masa 30 hari yang direncanakan untuk pemulihan penuh lalu lintas berakhir, terjadi agresi terhadap Iran. Ia menolak klaim bahwa Iran pernah meminta penghentian serangan, menyebut pernyataan semacam itu sebagai bagian dari perang psikologis dan media yang telah berulang kali terbukti tidak berdasar. Iran, kata dia, tidak akan tergoyahkan oleh ancaman atau tekanan dari luar, termasuk dari Amerika Serikat, yang disebut telah melakukan dua hingga tiga agresi militer berintensitas tinggi.
Dalam kesempatan itu, Baqaei juga memperingatkan negara-negara yang memberikan dukungan logistik, pangkalan militer, atau fasilitas kepada pihak yang menyerang Iran, bahwa mereka akan dianggap ikut bertanggung jawab atas agresi tersebut dan harus siap menghadapi konsekuensinya. Ia menegaskan bahwa semua keputusan Iran didasarkan pada prinsip hak membela diri dan hukum internasional, bukan respons terhadap intimidasi. Pembicaraan dengan Oman, tegasnya, bersifat eksklusif dan tidak melibatkan pihak ketiga.















