Sumbawanews.com,- Krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan—ia sudah hidup di rumah, sekolah, dan halaman bermain anak-anak Indonesia. Laporan terbaru UNICEF, *Children’s Climate Risk Report 2026*, mengungkap fakta memilukan: 2,3 miliar anak di dunia terpapar setidaknya satu bahaya iklim, dan sekitar 4 juta di antaranya harus bertahan hidup di tengah enam ancaman sekaligus. Di Indonesia, dampaknya tak lagi terasa samar—ia menyusup ke napas, piring makan, dan pikiran anak-anak dari ujung Jawa hingga pulau-pulau terpencil.
Perdinan, lektor kepala di Departemen Geofisika dan Meteorologi IPB University dan konsultan kajian iklim untuk UNICEF, menjelaskan bahwa anak-anak tidak menghadapi bencana iklim satu per satu. Mereka mengalami semuanya sekaligus: panas ekstrem di perkotaan yang memperparah polusi udara, banjir yang mencemari sumber air bersih, kekeringan yang merenggut hasil pertanian, dan wabah demam berdarah yang melonjak akibat perubahan siklus nyamuk. “Ini bukan hanya soal lingkungan. Ini soal hak dasar: makan, minum, sehat, dan belajar,” katanya.
Di Jawa, tempat 56% populasi anak Indonesia tinggal, urban heat island dan banjir menjadi musuh harian. Anak-anak di Jakarta, Bandung, atau Surabaya tak hanya kesulitan bernapas akibat kabut asap, tapi juga kehilangan hari sekolah karena genangan yang tak kunjung surut. Sementara di Nusa Tenggara, kekeringan berkepanjangan mengubah piring makan menjadi kosong. Anak-anak di Flores, Sumba, atau Timor harus berjalan kilometer untuk mendapatkan air bersih—sambil menahan lapar, karena tanaman pangan gagal panen dan ternak mati.
Di pesisir dan pulau-pulau kecil, laut yang naik bukan sekadar fenomena geografis. Ia merusak sumur-sumur air tawar, menghancurkan rumah-rumah nelayan, dan memutus akses ke sekolah. Intrusi air laut membuat air minum berasa asin, dan anak-anak yang seharusnya tumbuh sehat justru rentan terhadap gangguan pencernaan dan malnutrisi.
Perubahan iklim juga mengacak sistem pangan. Fluktuasi suhu dan curah hujan mengganggu siklus tanam padi, mengurangi hasil perikanan, dan membuat harga sayur-mayur melambung. Di pasar tradisional, ibu-ibu harus memilih antara membeli nasi atau telur. Anak-anak pun membayar harga itu dalam bentuk stunting, kekurangan gizi, dan pertumbuhan yang terhambat.
Di balik semua ini, ada ancaman laten yang tak terlihat: trauma psikologis. Anak-anak yang menyaksikan rumah mereka hanyut, sekolah mereka ditutup berbulan-bulan, atau orang tua mereka kehilangan pekerjaan karena gagal panen—mereka membawa luka yang tak tercatat dalam statistik kesehatan. “Mereka tidak hanya kehilangan makanan. Mereka kehilangan rasa aman,” ujar Perdinan.
UNICEF mencatat 1,8 miliar anak di dunia terpapar kekeringan—baik meteorologis maupun pertanian. Di Indonesia, kekeringan memicu kebakaran hutan yang membanjiri udara dengan partikel berbahaya. Anak-anak di Kalimantan dan Sumatra mengalami infeksi saluran pernapasan hingga pneumonia, sementara nyamuk pembawa malaria dan demam berdarah menyebar ke daerah yang sebelumnya aman.
Tapi bukan hanya pemerintah yang diam. Organisasi seperti Plan Indonesia mulai menggerakkan generasi muda sebagai agen perubahan. Di Nusa Tenggara Timur—daerah paling rentan—remaja perempuan dilatih untuk memetakan risiko iklim di desa mereka, mengadvokasi kebijakan lokal, dan menyampaikan pengalaman langsung ke forum perencanaan daerah. Di Jakarta Utara, Barat, dan Timur, kelompok remaja belajar merancang solusi berbasis komunitas: dari penanaman pohon di lahan kosong hingga sistem pengumpulan air hujan sederhana.
“Kami tidak hanya mengajarkan mereka tentang perubahan iklim. Kami memastikan mereka punya suara dalam menentukan masa depan mereka sendiri,” kata Enos Ndapareda, Humanitarian Manager Plan Indonesia. Untuk anak-anak di bawah 15 tahun, pendekatannya berbeda: melalui orang tua. Edukasi keluarga menjadi kunci, karena perubahan dimulai dari rumah.
Laporan UNICEF ini bukan sekadar peringatan. Ia adalah panggilan. Di tengah kegigihan anak-anak Indonesia yang tetap bersekolah meski banjir menggenangi jalan, yang tetap belajar meski udara penuh asap, yang tetap tersenyum meski piringnya kosong—mereka bukan korban pasif. Mereka adalah saksi, dan sekaligus harapan. Yang kini menunggu: apakah dunia akan mendengar, atau hanya mencatat?















