Sumbawanews.com,- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi yang berpotensi mengancam keselamatan pelayaran di sejumlah wilayah perairan Indonesia, mulai 29 Mei hingga 1 Juni 2026. Gelombang dengan ketinggian hingga empat meter diprediksi terjadi di perairan Samudra Hindia barat Sumatera hingga Nusa Tenggara Barat, sementara di wilayah lain, gelombang 1,25 hingga 2,5 meter masih berpotensi mengganggu aktivitas maritim.
Prakirawan BMKG Ryan Pambudi menjelaskan, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari tenggara ke barat daya dengan kecepatan 8–30 knot, sementara di selatan angin bergerak searah dengan kecepatan lebih rendah, yakni 6–20 knot. Kecepatan angin tertinggi terpantau di Samudra Pasifik utara Maluku hingga Papua Barat Daya, yang menjadi pemicu utama peningkatan ketinggian gelombang.
Di perairan yang lebih luas—termasuk Laut Arafura, Laut Banda, Laut Sulawesi, dan Laut Maluku—gelombang 1,25–2,5 meter diperkirakan akan mengganggu pergerakan kapal kecil. Namun, yang menjadi perhatian utama adalah rentang perairan Samudra Hindia barat Sumatera hingga selatan NTT dan NTB, di mana gelombang 2,5–4 meter berpotensi terjadi. Wilayah-wilayah tersebut mencakup perairan Aceh, Kepulauan Nias, Mentawai, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, hingga NTB.
BMKG menekankan risiko nyata bagi berbagai jenis kapal. Nelayan yang menggunakan perahu kecil diminta waspada jika angin melebihi 15 knot dan gelombang di atas 1,25 meter. Kapal tongkang sebaiknya menghindari kondisi dengan angin lebih dari 16 knot dan gelombang 1,5 meter. Sementara kapal feri harus berhati-hati jika menghadapi angin lebih dari 21 knot dan gelombang 2,5 meter. Untuk kapal kargo dan pesiar berukuran besar, ambang batas aman adalah angin di bawah 27 knot dan gelombang di bawah 4 meter.
“Potensi gelombang tinggi ini tidak hanya mengancam pelayaran, tetapi juga aktivitas masyarakat pesisir,” ujar Ryan. BMKG mengimbau penduduk yang tinggal di sepanjang pantai barat Sumatera hingga selatan Nusa Tenggara untuk tetap waspada terhadap kemungkinan banjir rob, abrasi, dan ombak besar yang bisa menerjang daratan.
Peringatan ini dikeluarkan seiring dengan kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi di kawasan equator, di mana interaksi antara angin muson dan tekanan atmosfer menciptakan dinamika laut yang tidak stabil. Masyarakat diminta memantau informasi terkini melalui kanal resmi BMKG dan menghindari aktivitas di laut saat kondisi memburuk.















