Sumbawanews.com,- Gaza – Ledakan mengguncang Jalur Gaza menjelang shalat Idul Adha, menewaskan tujuh warga sipil—termasuk perempuan dan anak-anak—dalam serangan udara Israel yang menghantam permukiman padat di pusat Kota Gaza. Serangan itu terjadi hanya beberapa jam sebelum umat Muslim di wilayah yang terkepung itu bersiap menunaikan ibadah ritual tahunan yang seharusnya dipenuhi kegembiraan dan kurban.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan Gaza, pesawat tempur Israel meluncurkan dua rudal ke sebuah rumah di kawasan Al-Rimal, dekat Menara al-Israa di Jalan Omar Al-Mukhtar. Empat orang tewas seketika, 15 lainnya terluka parah. Korban jiwa bertambah menjadi tujuh setelah tiga orang lainnya meninggal di Rumah Sakit al-Shifa akibat luka yang tak tertolong. Mayat-mayat dan tubuh-tubuh terluka terus berdatangan, termasuk anak-anak kecil yang masih memegang sajadah mereka.
Di Khan Yunis, serangan artileri menghancurkan apartemen perumahan, melukai lebih dari sepuluh warga. Sementara itu, rumah sakit-rumah sakit di Gaza kewalahan menangani korban, karena tim penyelamat tak bisa menjangkau reruntuhan akibat serangan berkelanjutan dan jalan-jalan yang terpenuhi puing. Puluhan orang masih terjebak di bawah bangunan yang runtuh.
Idul Adha tahun ini bukanlah perayaan, melainkan duka yang berulang. Selama tiga tahun berturut-turut, warga Gaza tak mampu menunaikan haji. Ritual kurban—yang menjadi jantung Idul Adha—hampir punah akibat blokade ketat, kekurangan bahan pangan, dan kehancuran infrastruktur. Shalat Ied pun dilaksanakan di tengah reruntuhan masjid, di lapangan terbuka yang dikelilingi puing-puing bangunan, bukan di masjid-masjid yang dulu penuh semarak.
Gambar-gambar dari Khan Yunis menunjukkan jemaah berdiri di samping puing Masjid Al-Huda yang hancur, sajadah mereka terhampar di atas tanah yang berdebu dan berlumuran darah. Bagi mereka, takbir yang dikumandangkan bukan sekadar ucapan, tapi jeritan kesabaran di tengah kehancuran yang tak kunjung berakhir.
Sejak Oktober 2023, konflik ini telah menewaskan lebih dari 72.000 orang Palestina dan melukai lebih dari 172.000 lainnya. Sekitar 90 persen infrastruktur sipil di Gaza—sekolah, rumah sakit, jembatan, dan rumah—telah hancur atau rusak parah. Dunia menyaksikan, namun serangan terus berlanjut, bahkan di hari-hari paling suci.
Di tengah keheningan menjelang shalat, suara ledakan masih bergema. Dan di antara ribuan jemaah yang berdiri dalam diam, ada yang menangis—bukan karena takut, tapi karena kehilangan yang tak lagi bisa dihitung.















