Home Serba Serbi Tekno Ryanair Diperiksa karena Biaya Tempat Duduk Keluarga

Ryanair Diperiksa karena Biaya Tempat Duduk Keluarga

Sumbawanews.com,- Lembaga persaingan Inggris, Competition and Markets Authority (CMA), sedang menyelidiki maskapai low-cost Ryanair atas kebijakan mewajibkan orang tua membayar biaya tambahan untuk duduk bersebelahan dengan anak mereka. CMA menilai praktik ini melanggar hukum konsumen karena dianggap tidak adil dan membebani keluarga yang sudah berhemat untuk liburan.

Menurut kebijakan Ryanair, setiap anak berusia 2 hingga 11 tahun harus duduk berdekatan dengan minimal satu orang tua atau wali saat terbang — istilah yang disebut sebagai “family seat”. Namun, untuk memastikan posisi duduk tersebut, orang tua diwajibkan membayar biaya sekitar £8 (sekitar Rp190.000) per penerbangan. Sementara itu, penumpang lain dapat memilih duduk tanpa biaya tambahan.

CMA menekankan bahwa biaya ini bukan sekadar pilihan, melainkan paksaan yang tersembunyi dalam proses pemesanan. Hukum konsumen Inggris mensyaratkan harga total tiket ditampilkan secara transparan sejak awal, bukan dipecah-pecah dalam bentuk biaya terselubung saat pemesanan berlangsung. Dalam hal ini, CMA menduga Ryanair sengaja menyamarkan biaya wajib ini sebagai “pemesanan tempat duduk”, padahal sejatinya adalah syarat keselamatan yang seharusnya menjadi bagian dari layanan dasar.

Menariknya, Ryanair telah menghentikan penerapan biaya serupa di penerbangan ke dan dari Italia setelah kalah dalam banding pada 2024 melawan larangan yang dikeluarkan otoritas penerbangan sipil Italia (ENAC). Keputusan itu menjadi preseden penting, mengingat argumen serupa kini diuji di Inggris.

Ryanair membantah tuduhan tersebut, menyebut penyelidikan CMA sebagai “tidak berdasar”. Namun, CMA menegaskan bahwa Ryanair adalah satu-satunya maskapai besar yang beroperasi dari Inggris yang masih menerapkan praktik semacam ini. Bagi banyak keluarga, biaya tambahan yang terkesan kecil bisa berakumulasi menjadi beban signifikan — terutama saat liburan musim panas menjadi prioritas anggaran rumah tangga.

Penyelidikan ini tidak hanya menyoroti praktik bisnis maskapai, tetapi juga mempertanyakan batas antara kebijakan operasional dan tanggung jawab etis terhadap konsumen, terutama kelompok rentan seperti anak-anak dan orang tua. Jika dinyatakan melanggar hukum, kemungkinan besar Ryanair akan dipaksa mengubah model pendapatan yang telah menjadi andalan sejak bertahun-tahun — dan membuka jalan bagi perubahan industri yang lebih adil bagi seluruh penumpang.

Previous articleVisa AS Cepat, Biaya Rp13,5 Juta
Next articleMeksiko Sediakan Markas Iran di Piala Dunia 2026
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.