Home Blog Page 47

Erdogan Peringatkan Ancaman Sabotase Israel terhadap Kesepakatan AS-Iran

Sumbawanews.com,- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memuji langkah diplomatik Amerika Serikat dan Iran yang dinilainya sebagai terobosan penting dalam meredakan ketegangan di Timur Tengah. Dalam pernyataannya pada Senin (15/6), Erdogan menyambut positif kemajuan dalam negosiasi antara Washington dan Teheran, yang disebutnya sebagai langkah menuju stabilitas regional yang langka di tengah konflik berkepanjangan.

Namun, ia tak lupa mengingatkan para pihak yang terlibat agar waspada terhadap upaya sabotase dari luar. “Kesepakatan ini terlalu berharga untuk dirusak oleh kepentingan sempit,” tegas Erdogan, merujuk pada kekhawatiran bahwa Israel—yang secara historis menentang setiap bentuk normalisasi hubungan antara AS dan Iran—mungkin berupaya menggagalkan proses perdamaian melalui tekanan politik atau aksi provokatif.

Pernyataan Erdogan ini muncul di tengah gelombang respons internasional yang positif terhadap kesepakatan tersebut. Sebelumnya, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga menyambut baik inisiatif ini, sementara Presiden AS Donald Trump menegaskan bahwa salah satu pilar utama kesepakatan adalah penegasan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir—sebuah prasyarat yang konsisten dengan kebijakan lama AS namun kini dijalankan dengan pendekatan diplomatik yang lebih terbuka.

Erdogan, yang selama bertahun-tahun memainkan peran sebagai mediator di kawasan, menekankan bahwa keberhasilan kesepakatan ini bergantung pada komitmen semua pihak untuk tidak tergoda oleh kepentingan jangka pendek. Ia menyoroti bahwa Israel, meski bukan peserta langsung dalam negosiasi, memiliki pengaruh signifikan melalui aliansi strategisnya dengan Washington, dan bahwa keberlanjutan kesepakatan akan diuji oleh sejauh mana tekanan dari pihak-pihak yang menolak dialog tetap bisa ditekan.

Dalam konteks geopolitik yang semakin rapuh, peringatan Erdogan bukan sekadar pernyataan simbolis. Ia mengingatkan dunia bahwa sejarah telah membuktikan bahwa kesepakatan besar sering runtuh bukan karena kegagalan utama, melainkan karena gangguan dari pihak-pihak yang merasa terancam oleh perubahan kekuasaan. Dengan nada tegas, ia menyerukan agar diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalur yang dijunjung tinggi—bukan kekerasan, provokasi, atau manipulasi.

Kesepakatan AS-Iran yang tengah dibangun, menurut analis, bisa menjadi titik balik jika tidak tercemari oleh kecurigaan berulang. Dan dalam dinamika kompleks Timur Tengah, peran Turki sebagai negara yang memiliki hubungan dengan kedua belah pihak—baik AS maupun Iran—menjadikan Erdogan bukan hanya pengamat, tapi aktor kunci yang bisa menentukan apakah perdamaian ini akan bertahan, atau sekadar mimpi yang terputus oleh satu serangan rudal, satu pernyataan provokatif, atau satu keputusan politik yang terlalu ambisius.

Boneka di Kabin Kelabui Sistem Tesla FSD

Sumbawanews.com,- Beijing – Sebuah aksi nekat terungkap di China: sejumlah pengemudi Tesla sengaja memasang kepala boneka di dekat spion untuk mengelabui sistem pemantauan pengemudi pada fitur Full Self-Driving (FSD). Aksi ini viral di media sosial setelah video yang menunjukkan boneka menyerupai aktor Dwayne Johnson berdiri di kursi penumpang, seolah-olah menjadi pengemudi yang waspada, beredar luas.

Praktik ini muncul setelah otoritas China memperketat aturan keselamatan berkendara melalui pembaruan perangkat lunak Tesla pada 2025. Sistem FSD, yang masih diklasifikasikan sebagai teknologi tingkat 2—artinya pengemudi wajib selalu siap mengambil alih kendali—mulai dilengkapi kamera internal yang memantau apakah mata pengemudi fokus ke jalan. Namun, sebagian pengguna justru mencari celah: dengan menempatkan boneka di posisi yang terdeteksi kamera, mereka mengira sistem akan menganggap mereka tetap mengawasi jalan.

Tak hanya boneka, sebelumnya pengemudi juga pernah mencoba mengakali sistem dengan memasang pemberat di setir atau mengenakan kacamata hitam agar sensor tidak mendeteksi mata tertutup. Tapi dengan boneka, trik ini menjadi lebih canggih—dan lebih berbahaya.

Para ahli keselamatan jalan raya di China mengkritik tindakan ini sebagai bentuk penyalahgunaan teknologi yang bisa berujung bencana. “FSD bukan pengganti pengemudi. Ini hanya alat bantu. Mengelabui sistem sama saja dengan melepaskan tanggung jawab atas nyawa sendiri dan orang lain,” ujar seorang insinyur keselamatan transportasi di Universitas Tsinghua.

Di sisi lain, sejumlah pemilik Tesla di China justru mengajukan gugatan terhadap perusahaan, menilai nama “Full Self-Driving” terlalu menyesatkan. Mereka berargumen bahwa promosi Tesla seolah-olah menjanjikan otonomi penuh, padahal secara teknis dan hukum, pengemudi tetap bertanggung jawab penuh.

Fenomena ini bukan sekadar kelakuan konyol. Ia menggambarkan ketegangan mendalam antara inovasi teknologi dan perilaku manusia: semakin canggih sistem, semakin besar godaan untuk mengabaikan batas-batas keselamatan. Tesla sendiri belum memberikan pernyataan resmi, tetapi perusahaan telah berulang kali menekankan bahwa FSD bukanlah sistem otonom, dan pengemudi wajib tetap waspada.

Di tengah maraknya mobil otonom di seluruh dunia, kasus ini menjadi peringatan keras: teknologi tidak bisa menyelamatkan manusia yang enggan bertanggung jawab. Di jalan raya, boneka bisa menipu kamera—tapi tidak bisa menahan laju mobil yang menabrak pengendara lain.

Rusia Hancurkan 172 Drone Ukraina, 60 di Atas Moskow

Sumbawanews.com,- Pertahanan udara Rusia berhasil menangkal serangan drone massal dari Ukraina dalam semalam, dengan 172 pesawat tak berawak dihancurkan di berbagai wilayah, termasuk 60 unit yang menargetkan ibu kota Moskow. Kementerian Pertahanan Rusia mengonfirmasi operasi penangkalan itu berlangsung sepanjang malam, mencakup serangan di atas Laut Azov dan Laut Hitam.

Wali Kota Moskow Sergey Sobyanin melaporkan bahwa pasukan pertahanan udara berhasil menembak jatuh 60 drone yang mendekati pusat kota sejak pagi hari. Serangan ini menjadi yang terbesar sejak 17 Mei lalu, ketika 81 drone dicegat—angka yang kini terlampaui. Sebelumnya, pada 16 Mei dan 7 Mei, masing-masing 38 dan 61 drone juga berhasil dihancurkan di wilayah yang sama.

Di ibu kota, satu fasilitas di Kilang Minyak Moskow mengalami kerusakan akibat puing-puing drone yang jatuh, meski belum ada informasi rinci mengenai dampak terhadap operasional produksi. Di wilayah Krasnodar, selatan Rusia, kebakaran terjadi di fasilitas penyimpanan minyak setelah puing drone menghantam lokasi tersebut. Di Elektrostal, kota di timur Moskow, sebuah bangunan perumahan juga mengalami kerusakan struktural, namun hingga kini tidak ada laporan korban jiwa.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy melalui akun Telegram mengonfirmasi serangan terhadap kilang minyak Rusia, menyebutnya sebagai bagian dari strategi “sanksi jarak jauh”—taktik yang semakin sering digunakan Kyiv untuk menargetkan infrastruktur energi dan logistik Rusia tanpa melibatkan pasukan darat.

Serangan ini menandai intensifikasi perang drone yang kini menjadi tulang punggung strategi pertahanan dan ofensif kedua belah pihak. Dengan jumlah drone yang ditembak jatuh mencapai ratusan dalam beberapa pekan terakhir, Moskow terus memperkuat sistem pertahanan udaranya, sementara Ukraina memperluas kapasitas produksi dan peluncuran pesawat tak berawaknya, bahkan di tengah tekanan logistik dan sanksi internasional.

1.680 Bibit Mangrove Ditanam di Pantai Tanjung Pakis

Sumbawanews.com,- PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) bersama anak perusahaan dan mitra lingkungan CarbonEthics menanam 1.680 bibit mangrove di Pantai Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat, dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026. Aksi ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat ketahanan pesisir dan mendukung target net zero emissions Indonesia.

Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Pakisjaya itu tidak hanya simbolis, tetapi dirancang sebagai program berkelanjutan. Mangrove dipilih karena perannya sebagai benteng alami yang mampu menahan abrasi, menyerap karbon, sekaligus menjadi habitat penting bagi keanekaragaman hayati laut. Wilayah Tanjung Pakis sengaja dipilih lantaran mengalami tekanan ekologis akibat erosi pantai dan degradasi ekosistem mangrove yang semakin kritis.

Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, Keamanan, dan Lingkungan (K3KL) PLN EPI, Muhammad Aminuddin, menegaskan bahwa keadilan iklim bukan sekadar soal pengurangan emisi, tetapi juga perlindungan terhadap masyarakat pesisir yang paling rentan. “Penanaman ini adalah bentuk nyata dari upaya kami memastikan manfaat lingkungan dirasakan langsung oleh warga sekitar,” ujarnya, Rabu (17/6/2026).

Program ini melibatkan jajaran manajemen PLN EPI, perwakilan anak perusahaan, kelompok masyarakat lokal, dan berbagai pemangku kepentingan. Setelah penanaman, CarbonEthics akan memantau pertumbuhan tanaman secara berkala, memastikan tingkat kelangsungan hidup bibit, serta mengukur dampak penyerapan karbon dalam jangka panjang.

Aminuddin menambahkan, inisiatif ini selaras dengan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan strategi dekarbonisasi PLN EPI sebagai subholding PT PLN (Persero). “Kami percaya solusi berbasis alam—seperti rehabilitasi mangrove—adalah investasi terbaik untuk masa depan yang tangguh dan rendah karbon,” katanya.

Dengan luasan garis pantai yang terus menyusut akibat perubahan iklim, aksi seperti ini menjadi semakin krusial. Di Karawang, yang menjadi salah satu pusat industri dan pelabuhan di Jawa Barat, keberadaan mangrove bukan hanya soal lingkungan, tapi juga ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut.

PLN EPI mengajak seluruh pihak—pemerintah, swasta, dan masyarakat—untuk tidak hanya merayakan Hari Lingkungan Hidup, tetapi benar-benar bekerja untuk iklim. “Setiap bibit yang ditanam hari ini adalah harapan bagi generasi mendatang,” tutup Aminuddin.

Insentif Rp1,5 Juta untuk Guru Madrasah Non-ASN Cair Akhir Juni

Sumbawanews.com,- Kementerian Agama memastikan insentif sebesar Rp1,5 juta bagi guru madrasah non-ASN akan mulai dicairkan pada akhir Juni 2026. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Menteri Agama, Nasaruddin Umar, saat menghadiri rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, pada Rabu (17/6).

Dalam kesempatan itu, Nasaruddin menyampaikan rasa syukur atas komitmen para guru madrasah yang terus mengabdikan diri di tengah keterbatasan sumber daya. “Alhamdulillah, tahun ini kita awali dengan kabar baik. Insya Allah, insentif untuk guru madrasah non-ASN akan mulai masuk ke rekening mereka pada akhir Juni,” ujar Nasaruddin.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amin Suyitno, menambahkan bahwa proses administrasi terkait penyaluran dana kini memasuki tahap akhir. Pihaknya sedang menyelesaikan pembuatan buku rekening kolektif bagi seluruh penerima insentif, sebagai bagian dari upaya memastikan penyaluran dana tepat sasaran dan transparan.

“Ini butuh kerja keras tim GTK Madrasah. Kami ingin pastikan setiap rupiah sampai ke tangan yang berhak, tanpa ada yang tertinggal,” ujar Amin.

Insentif ini diberikan kepada guru dan tenaga kependidikan madrasah yang tidak berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN), namun aktif mengajar di lembaga pendidikan keagamaan Islam di bawah naungan Kemenag. Jumlah penerima diperkirakan mencapai puluhan ribu orang, tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Langkah ini menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik di sektor pendidikan agama, sekaligus menjawab tuntutan masyarakat yang meminta kepastian hak-hak guru honorer. Sebelumnya, sejumlah daerah melaporkan keterlambatan pencairan tunjangan, yang sempat memicu kekhawatiran di kalangan guru.

Kemenag menegaskan bahwa penyaluran insentif ini tidak terkait dengan tunjangan profesi guru (TPG) yang telah dicairkan lebih awal tahun ini, melainkan merupakan bentuk dukungan khusus bagi guru non-ASN yang belum mendapat jaminan penghasilan tetap dari negara.

Dengan pencairan yang dijadwalkan akhir Juni, para guru di seluruh penjuru nusantara kini menanti kepastian yang bisa meringankan beban ekonomi sekaligus menjadi pengakuan atas dedikasi mereka dalam mencerdaskan anak bangsa melalui pendidikan berbasis nilai-nilai agama.

Wabah Ebola di Kongo Ancam Jadi Bencana Terbesar Sejarah

Sumbawanews.com,- Kinshasa — Wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo berpotensi menjadi episentrum paling mematikan dalam sejarah wabah virus tersebut, peringatkan Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya. Jika tidak segera dikendalikan, krisis ini bisa melebihi skala bencana di Afrika Barat tahun 2014 dan wabah sebelumnya di Kongo timur yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.

Data resmi pemerintah pada Selasa (16/6/2026) menunjukkan jumlah kasus konfirmasi telah melonjak menjadi 837, dengan 196 korban jiwa. Namun, angka ini diperkirakan jauh lebih tinggi karena sistem pelacakan kontak kolaps. Kaseya mengungkapkan, lebih dari 26.000 orang yang berpotensi terpapar belum bisa dilacak keberadaannya—sebuah kegagalan kritis yang memperbesar risiko penyebaran tak terkendali.

Respons kemanusiaan terhambat oleh dua faktor utama: minimnya fasilitas perawatan dan resistensi masyarakat terhadap protokol kesehatan yang ketat. Di banyak desa, tradisi penguburan yang melibatkan sentuhan langsung terhadap jenazah—yang tetap sangat menular setelah kematian—menjadi saluran utama penularan. Para petugas Palang Merah memperingatkan bahwa epidemi ini belum mencapai puncaknya, dan jumlah korban bisa terus meningkat tajam dalam minggu-minggu mendatang.

Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian skala sebenarnya dari wabah. Lebih dari sebulan sejak status darurat dinyatakan, pihak berwenang masih kesulitan memetakan penyebaran virus secara akurat. Kekurangan tenaga medis, logistik, dan kepercayaan publik terhadap otoritas kesehatan menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.

Dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin Afrika dan donor internasional di Burundi, Kaseya menyerukan aksi segera dan dana darurat yang signifikan. “Kita tidak bisa menunggu hingga ribuan lagi jatuh. Setiap jam yang terlewat adalah kesempatan bagi virus untuk menyebar lebih jauh,” tegasnya.

Sementara itu, otoritas kesehatan nasional dan organisasi internasional seperti WHO terus berupaya memperkuat kapasitas respons, termasuk mendistribusikan vaksin dan alat pelindung diri. Namun, tantangan geografis, konflik bersenjata di wilayah timur, dan ketidakstabilan politik membuat upaya ini berjalan lambat di banyak lokasi.

Dengan angka kematian yang terus naik dan sistem kesehatan yang hampir kolaps, dunia kini mengawasi Kongo dengan cemas—bukan hanya sebagai krisis lokal, tapi sebagai ancaman global yang bisa meledak kapan saja.

Kejagung Periksa Sony Sonjaya Besok

Sumbawanews.com,- Kejaksaan Agung akan memeriksa eks Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, sebagai tersangka dalam kasus korupsi program Makan Bergizi Gratis (MBG) periode 2025–2026, pada Kamis (18/6). Panggilan pemeriksaan telah diterima oleh pengacara Sony, Krisna Murti, meskipun lokasi pasti pemeriksaan—apakah di ruang penyidik atau di rutan—masih belum diketahui.

Pemeriksaan ini terkait langsung dengan permohonan Sony untuk menjadi Justice Collaborator (JC), sebuah upaya hukum yang memungkinkan tersangka memberikan keterangan demi kepentingan penyidikan. Krisna mengatakan, pihaknya sedang menunggu keputusan resmi Kejagung terkait status JC tersebut, yang dinilai akan menentukan arah hukum kasus ini.

Sebelumnya, Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Febrie Adriansyah, menyebut ada dua kriteria utama penilaian JC. Pertama, apakah keterangan Sony masih dibutuhkan untuk melengkapi alat bukti. Kedua, sejauh mana kontribusinya dalam mengungkap jaringan korupsi yang melibatkan 26 tokoh penting, termasuk di dalamnya pejabat dan pengusaha yang diduga terkait dalam penggelapan anggaran MBG.

Kejagung telah menetapkan lima tersangka dalam kasus ini: eks Kepala BGN Dadan Hindayana, Sony Sonjaya, eks Wakil Kepala BGN Lodewyk Pusung, kaki tangan Sony Asep Yusuf Somantri (AYS), dan Komisaris PT Yasa Artha Trimanunggal (YAT), Andri Mulyono.

Investigasi mengungkap bahwa program MBG, yang seharusnya dikelola oleh yayasan Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang independen dan memenuhi syarat teknis, justru banyak diserahkan kepada yayasan yang memiliki hubungan dekat dengan pejabat BGN. Banyak di antaranya bahkan tidak memenuhi kriteria minimal sebagai mitra pemerintah.

Korupsi terjadi melalui mark-up harga pengadaan barang, yang menyebabkan kerugian negara signifikan. Barang yang disalahgunakan mencakup 21.801 unit motor listrik senilai Rp1,03 triliun, 32.000 pasang sepatu, 31.994 unit tablet, dan 5.400 unit televisi 75 inci—semua diperuntukkan bagi siswa penerima bantuan gizi, namun sebagian besar tidak sampai ke tangan yang seharusnya.

Penyidikan terus berlanjut, dengan fokus pada jejak uang dan keterlibatan jaringan yang lebih luas. Kejagung menegaskan, kasus ini bukan sekadar soal pengadaan barang, tapi soal sistemiknya kegagalan pengawasan dan penyalahgunaan wewenang di tingkat tertinggi birokrasi pelayanan publik.

Oppo Find X10 Pro Siap Guncang Pasar Kamera Flagship

Sumbawanews.com,- Oppo tengah mempersiapkan lompatan besar di segmen flagship dengan peluncuran Oppo Find X10 Pro yang dijadwalkan pada September 2026. Bocoran spesifikasi terbaru mengungkap perangkat ini bakal mengusung konfigurasi kamera yang belum pernah ada sebelumnya di ponsel Android, sekaligus menggabungkan kekuatan prosesor generasi terbaru dan daya tahan baterai yang ekstrem.

Ditenagai oleh chipset MediaTek Dimensity 9600 yang diproduksi dengan proses fabrikasi 2nm, Find X10 Pro diyakini menjadi salah satu ponsel paling canggih di kelasnya. Chipset ini tidak hanya menjanjikan performa tinggi, tetapi juga efisiensi energi yang signifikan—kunci utama untuk mendukung beban berat dari sistem kamera canggihnya.

Namun, yang paling mencuri perhatian adalah sistem kamera belakangnya. Oppo dikabarkan memasang sensor utama 200MP berbasis Samsung ISOCELL HPC dengan ukuran 1/1,3 inci, sebuah lompatan besar dari pendahulunya. Sensor ini dirancang untuk menangkap detail luar biasa bahkan dalam kondisi cahaya minim, menjadikan mode malam dan pemotretan dinamis sebagai keunggulan utama. Lebih mengejutkan lagi, ponsel ini juga dilengkapi kamera telefoto beresolusi sama—200MP—yang memungkinkan zoom optik tanpa kehilangan kualitas, sebuah fitur yang hingga kini hanya menjadi mimpi di sebagian besar ponsel premium.

Tak kalah menarik, ada pula sensor multispektral 3MP yang bertugas meningkatkan akurasi warna dan respons cahaya secara real-time, memastikan warna yang ditangkap lebih dekat dengan realitas mata manusia. Meski belum disebutkan secara eksplisit, kemungkinan besar kamera ultrawide tetap hadir sebagai bagian dari paket lengkap flagship, mengingat posisi Find X10 Pro yang ditujukan untuk bersaing langsung dengan puncak kamera dari Samsung dan Apple.

Di sisi daya, Oppo tampaknya tidak main-main. Baterai berkapasitas minimal 8.000 mAh diklaim akan menghadirkan otonomi yang luar biasa, bahkan saat digunakan untuk pemotretan intensif atau penggunaan 5G berkelanjutan. Upaya untuk menjaga bobot dan ketebalan perangkat tetap terkendali menjadi tantangan besar, namun jika berhasil, ini akan menjadi salah satu keunggulan paling signifikan Find X10 Pro dibanding pesaingnya.

Peluncuran yang masih tiga bulan lagi memberi waktu bagi Oppo untuk menyempurnakan kalibrasi kamera dan optimasi perangkat lunak. Jika semua bocoran terbukti akurat, Find X10 Pro bukan sekadar penerus Find X9 Pro—ia adalah pernyataan teknologi bahwa kualitas fotografi ponsel bisa melampaui batas yang selama ini dianggap tak terjangkau.

Sementara itu, di luar Find X10 Pro, Oppo juga dikabarkan sedang mengembangkan ponsel lipat berlayar lebar dengan ukuran layar utama 7,6 inci, yang diperkirakan akan meluncur pada kuartal pertama 2027. Dengan kemungkinan menggunakan Snapdragon 8 Elite Gen 6 dan teknologi engsel baru untuk mengurangi bekas lipatan, perangkat ini berpotensi menjadi penantang serius bagi iPhone Fold yang masih dalam tahap pengembangan. Dua produk ini—Find X10 Pro dan ponsel lipat baru—menunjukkan bahwa Oppo tidak hanya ikut bermain di pasar flagship, tetapi berusaha menentukan arahnya.

Indonesia Darurat, Mahasiswa Turun ke Jalan

Sumbawanews.com,- BEM SI Jawa Barat menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran di depan Gedung DPRD Provinsi Jawa Barat, Bandung, pada Rabu, 17 Juni 2026, dengan tajuk “Indonesia Darurat”. Aksi yang dimulai pukul 14.00 WIB itu menjadi puncak gelombang protes mahasiswa nasional yang telah berlangsung sejak pekan lalu, menuntut reformasi menyeluruh terhadap kebijakan ekonomi, hukum, dan tata kelola pemerintahan.

Dalam surat resmi yang ditandatangani Koordinator Wilayah BEM SI Jawa Barat, Muhamad Risaldi, sebanyak tujuh tuntutan diajukan secara tegas. Pertama, pemerintah diminta segera menurunkan harga BBM dan menstabilkan nilai rupiah yang terus melemah. Kedua, mahasiswa mendesak penyelamatan APBN dari pemborosan dan misalokasi anggaran. Ketiga, mereka menuntut perbaikan komunikasi kepresidenan yang dianggap tidak responsif terhadap krisis rakyat.

Keempat, aksi ini menyerukan evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi desa Merah Putih—dua program yang dinilai tidak transparan dan gagal menyentuh sasaran tepat. Kelima, mahasiswa meminta pencabutan Undang-Undang TNI dan UU Polri, yang dianggap memperkuat militerisasi di ruang sipil. Keenam, mereka mengecam kabinet “merah putih” sebagai kabinet inkompeten dan meminta reshuffle menyeluruh. Terakhir, tuntutan ketujuh menekankan penegakan HAM dan penghapusan impunitas terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Aksi ini bukanlah yang pertama. Gelombang protes serupa telah menggema sejak 12 Juni di Bundaran HI, Jakarta, dipimpin Badan Mahasiswa Universitas Indonesia bersama elemen mahasiswa dari berbagai kampus. Pada 15 Juni, demonstrasi berlanjut di Monas dan Gedung DPR/MPR, diikuti aksi serentak di Medan, Palembang, Surabaya, dan Makassar. Semua aksi menyuarakan tuntutan yang hampir identik: harga kebutuhan pokok yang terjangkau, penghentian proyek yang dinilai fiktif, dan peninjauan ulang peran militer dalam kehidupan sipil.

Kritik terhadap MBG semakin menguat setelah sejumlah dapur program itu dilaporkan berhenti beroperasi, sementara Ketua PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, baru-baru ini mengusulkan penundaan sementara program tersebut. Di sisi lain, Ketua PP Muhammadiyah juga menyarankan Presiden Prabowo Subianto untuk membatasi kunjungan ke luar negeri demi menghemat anggaran negara—sebuah sinyal kuat bahwa kritik tidak hanya datang dari kalangan mahasiswa, tetapi juga dari lembaga keagamaan berpengaruh.

Dengan latar belakang ekonomi yang masih rapuh, inflasi yang menghantui, dan kepercayaan publik terhadap pemerintah yang terus menurun, aksi ini bukan sekadar protes biasa. Ini adalah suara generasi muda yang menuntut keberanian kepemimpinan—bukan retorika, tapi tindakan nyata. Di tengah hiruk-pikuk politik dan kebijakan yang sering terasa jauh dari realitas rakyat, mahasiswa kembali menjadi pengingat: bahwa demokrasi bukan hanya soal pemilu, tapi soal keadilan yang dirasakan setiap hari.

Pemerintah kini dihadapkan pada pilihan: merespons dengan dialog atau mengabaikan suara yang semakin keras. Di Bandung, ribuan mahasiswa berdiri tegak, menuntut bukan hanya perubahan, tapi keberanian untuk mengubah.

Ketika Nama Kucing Mengalahkan Korupsi

Sumbawanews.com,- Ada ironi yang sangat telanjang dalam cara sebagian elite organisasi mahasiswa hari ini merespons kekuasaan. Ketika negara diguncang dugaan korupsi program strategis bernilai besar, perhatian moral sebagian aktivis justru tersedot pada perkara simbolik, yaitu nama seekor kucing. Di titik inilah publik patut bertanya, yaitu apakah gerakan mahasiswa masih berdiri sebagai kekuatan etik yang menjaga akal sehat republik, atau perlahan berubah menjadi barisan penjaga perasaan penguasa?

Pernyataan Ketua Umum PP GMKI, Prima Surbakti, terhadap Tiyo Ardianto, eks Ketua BEM UGM, yang memberi nama kucing dengan plesetan kasar terhadap nama Presiden Prabowo Subianto, memperlihatkan problem serius dalam nalar aktivisme kita. Tentu, ungkapan Tiyo dapat dinilai tidak elegan, kekanak-kanakan, bahkan buruk secara etika komunikasi publik. Kritik terhadap kekuasaan memang seharusnya naik kelas, yaitu kuat secara data, matang secara argumen, dan tajam secara substansi. Namun, menyamakan ejekan terhadap seorang presiden dengan penghinaan terhadap seluruh rakyat Indonesia adalah lompatan logika yang terlalu jauh, bahkan berbahaya.

Di sinilah letak sesat pikirnya. Presiden adalah pejabat publik, bukan personifikasi sakral dari negara. Presiden dipilih, digaji, dikritik, dan dapat diganti melalui mekanisme demokrasi. Negara tidak boleh dipersempit menjadi tubuh seorang pemimpin. Republik tidak runtuh hanya karena seorang warga mengejek presiden. Yang meruntuhkan republik adalah korupsi, impunitas, pelemahan hukum, pengkhianatan terhadap konstitusi, dan pembungkaman kritik dengan dalih moralitas.

Logika “menghina presiden berarti menghina rakyat” adalah warisan lama dari politik kekuasaan paternalistik. Pada masa Orde Baru, kritik terhadap penguasa kerap dibingkai sebagai tindakan subversif, anti-pembangunan, anti-Pancasila, bahkan anti-negara. Akibatnya, batas antara negara, pemerintah, rezim, dan pribadi pemimpin menjadi kabur. Padahal, dalam demokrasi modern, justru pemisahan itulah yang wajib dijaga. Pemerintah bisa dikritik. Presiden bisa diejek. Kebijakan bisa ditolak. Program negara bisa dibongkar. Semua itu bukan penghinaan terhadap bangsa, melainkan bagian dari mekanisme koreksi warga negara.

Dalam teori ruang publik Jürgen Habermas, demokrasi membutuhkan ruang percakapan rasional tempat warga dapat menguji klaim kekuasaan secara terbuka (Goode, 2005). Ruang publik tidak boleh dikendalikan oleh rasa tersinggung elite. Bila setiap ekspresi keras langsung diperlakukan sebagai serangan terhadap martabat negara, maka ruang publik berubah menjadi ruang ketakutan. Warga tidak lagi berdiskusi, tetapi menebak-nebak batas perasaan pejabat. Demokrasi seperti ini bukan demokrasi deliberatif, melainkan demokrasi yang dikebiri oleh moralitas kekuasaan.

Masalahnya menjadi lebih tajam ketika pernyataan moral itu muncul bersamaan dengan isu yang jauh lebih besar, yaitu dugaan korupsi dalam tata kelola program Makan Bergizi Gratis. Kejaksaan Agung telah mengungkap dugaan markup pengadaan di Badan Gizi Nasional, termasuk pengadaan motor listrik bernilai sekitar Rp1 triliun, sepatu, tablet, dan televisi yang disebut tidak sesuai kebutuhan riil. Di sini, pertanyaan publik menjadi sangat sah, yaitu mengapa energi moral begitu besar dikerahkan untuk mengecam nama kucing, tetapi kemarahan etik terhadap dugaan korupsi program rakyat terdengar jauh lebih prosedural, halus, dan hati-hati?

Ini bukan sekadar soal gaya komunikasi. Ini soal prioritas moral. Jika sebuah program publik yang mengatasnamakan gizi anak, penurunan stunting, dan kesejahteraan rakyat diduga dikorupsi melalui pengadaan yang tidak tepat sasaran, maka di situlah martabat republik

sesungguhnya sedang diinjak-injak. Martabat negara tidak terutama direndahkan oleh lelucon kasar warga, melainkan oleh pejabat yang menjadikan program rakyat sebagai ladang rente. Martabat rakyat tidak terluka karena seekor kucing diberi nama buruk, tetapi karena uang publik yang seharusnya sampai ke anak-anak, sekolah, dapur, dan keluarga miskin justru diduga bocor dalam rantai proyek.

Di sinilah tampak standar ganda yang menyedihkan. Ketika ekspresi warga dianggap kasar terhadap presiden, bahasa yang dipakai menjadi keras, yaitu menghina kepala negara, merendahkan rakyat, mencederai martabat republik. Namun, ketika menyangkut dugaan korupsi program unggulan pemerintah, bahasa yang muncul sering kali berubah menjadi “perlu evaluasi”, “perbaikan tata kelola”, “usut tuntas”, dan “jangan tebang pilih”. Secara formal, frasa-frasa itu benar. Tetapi secara moral, terasa terlalu lunak bila dibandingkan dengan skala kerusakan yang ditimbulkan korupsi.

Dalam kajian ilmu politik, fenomena ini dapat dibaca melalui konsep hegemonic consent dari Antonio Gramsci (Femia, 1975; Gross, 2015). Kekuasaan tidak selalu mempertahankan diri melalui kekerasan langsung. Ia juga bertahan melalui produksi persetujuan moral, yaitu ketika kelompok masyarakat sipil, intelektual, pemuda, dan organisasi keagamaan ikut mereproduksi narasi yang membuat kritik terhadap penguasa tampak tidak sopan, tidak beradab, bahkan tidak nasionalis. Pada titik itu, organisasi gerakan tidak lagi menjadi kekuatan korektif, melainkan menjadi bantalan moral bagi kekuasaan.

Padahal, sejarah GMKI tidak lahir untuk menjadi pagar perasaan penguasa. GMKI tumbuh dalam tradisi kekristenan sosial yang menekankan pelayanan, kebenaran, keadilan, dan keberpihakan pada yang lemah. Tokoh seperti Johannes Leimena memberi teladan bahwa iman Kristen dalam politik bukanlah alat untuk mendekati kekuasaan, melainkan kompas moral untuk menjaga kemanusiaan dan republik. Leimena tidak dikenang karena memuja presiden, tetapi karena integritas, kesederhanaan, dan kemampuannya menempatkan etika di atas transaksi politik.

Begitu juga T.B. Simatupang, tokoh Kristen, pemikir kebangsaan, dan negarawan, yang mengajarkan pentingnya iman yang bertanggung jawab dalam kehidupan publik. Kekristenan dalam ruang sosial tidak boleh menjadi dekorasi moral kekuasaan. Ia harus menjadi suara kenabian. Suara kenabian tidak selalu nyaman. Ia menegur raja, membela korban, menolak ketidakadilan, dan berani berdiri ketika mayoritas memilih diam.

Dalam tradisi gereja, Dietrich Bonhoeffer menjadi contoh radikal tentang tanggung jawab iman di hadapan kekuasaan yang menyimpang . Bonhoeffer tidak mengajarkan gereja untuk menjadi sopan di hadapan ketidakadilan. Ia mengajarkan bahwa diam terhadap kejahatan adalah bentuk keterlibatan moral. Dalam konteks Indonesia, tentu situasinya berbeda, tetapi prinsip etiknya tetap relevan, yaitu gereja dan organisasi Kristen tidak boleh kehilangan keberanian profetik hanya karena takut dianggap tidak santun terhadap penguasa.

Maka, ketika seorang pemimpin organisasi mahasiswa Kristen lebih sibuk mengangkat isu penghinaan simbolik daripada membongkar struktur korupsi secara lebih tajam, publik berhak kecewa. Bukan karena pemimpin itu tidak boleh membela etika komunikasi. Ia boleh. Bahkan perlu. Tetapi etika komunikasi tidak boleh dipakai sebagai alat selektif untuk menertibkan rakyat kecil, sementara pelanggaran etik kekuasaan diperlakukan dengan bahasa yang terlalu steril.

Gerakan mahasiswa, termasuk GMKI dan kelompok Cipayung, memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa. HMI, GMNI, PMKRI, PMII, GMKI, dan organisasi mahasiswa lain pernah menjadi ruang kaderisasi kritis yang melahirkan pemimpin, pemikir, aktivis, dan

negarawan. Tradisi Cipayung seharusnya bukan tradisi mencari aman, melainkan tradisi keberanian intelektual. Gerakan mahasiswa bukan humas pemerintah. Bukan pula satgas pembela citra presiden. Gerakan mahasiswa adalah alarm moral ketika kekuasaan mulai kebal kritik.

Karena itu, kritik terhadap Tiyo boleh saja disampaikan, tetapi harus proporsional. Katakan saja bahwa ungkapannya kasar, tidak mendidik, dan tidak memperkaya demokrasi. Itu cukup. Tidak perlu menyeret-nyeret rakyat Indonesia seolah-olah seluruh bangsa ikut dihina hanya karena presiden menjadi objek ejekan. Cara berpikir seperti itu justru merendahkan rakyat, karena seakan-akan rakyat tidak mampu membedakan antara negara, presiden, kebijakan, dan pribadi pejabat.

Pola seperti ini juga berbahaya bagi kebebasan berekspresi. Dalam negara demokrasi, batas kebebasan berpendapat memang ada. Tetapi batas itu seharusnya berkaitan dengan hasutan kekerasan, ancaman nyata, fitnah yang merusak reputasi tanpa dasar, atau ujaran kebencian terhadap kelompok rentan. Batas kebebasan tidak boleh diturunkan menjadi “jangan membuat penguasa tersinggung”. Bila rasa tersinggung pejabat dijadikan ukuran hukum dan moral, maka demokrasi akan berubah menjadi monarki perasaan.

Di sinilah nalar aktivisme harus dikembalikan. Aktivis bukan orang yang sekadar pandai berkata “beradab”. Aktivis adalah orang yang berani menempatkan ketidakadilan sebagai musuh utama. Aktivis bukan penjaga sopan santun semu. Aktivis adalah penjaga akal sehat publik. Jika ada warga berbicara kasar, tegur secara etis. Tetapi jika ada program rakyat diduga dikorupsi, lawan secara struktural. Jangan terbalik, seperti yang kecil dibesar-besarkan, yang besar diperkecil dengan bahasa administratif. 

Kasus ini seharusnya menjadi cermin bagi GMKI. Apakah GMKI hendak kembali menjadi gerakan kader yang tinggi iman, tinggi ilmu, dan tinggi pengabdian, atau tergelincir menjadi organisasi yang tinggi akses, tinggi seremoni, tetapi rendah keberanian kritik? Apakah GMKI ingin berdiri dalam tradisi Leimena dan Simatupang, atau cukup puas menjadi bagian dari paduan suara kekuasaan?

Suara kenabian tidak lahir dari kedekatan dengan istana. Ia lahir dari keberanian menyebut ketidakadilan sebagai ketidakadilan. Ia lahir dari kesediaan membela rakyat ketika program atas nama rakyat justru dirusak oleh elite. Ia lahir dari keberanian berkata bahwa korupsi dalam program gizi anak jauh lebih menghina republik daripada lelucon buruk tentang nama kucing.

Tiyo mungkin salah memilih gaya. Tetapi respons yang membesar-besarkan perkara itu justru membuka borok yang lebih serius, yaitu lemahnya daya bedah sebagian elite gerakan terhadap relasi antara kekuasaan, moralitas, dan kebebasan publik. Ketika nama kucing dianggap ancaman martabat bangsa, sementara dugaan korupsi program triliunan hanya dibahas dalam bahasa evaluatif yang aman, maka yang sedang sakit bukan hanya logika satu-dua orang. Yang sedang sakit adalah orientasi moral gerakan.

Republik ini tidak membutuhkan aktivis yang alergi pada ejekan terhadap presiden. Republik ini membutuhkan aktivis yang alergi pada korupsi, manipulasi anggaran, pembungkaman kritik, dan penyalahgunaan program rakyat. Presiden tidak perlu disakralkan. Yang perlu dijaga adalah konstitusi, akuntabilitas, dan hak rakyat untuk mengawasi kekuasaan.

Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah nama kucing itu pantas atau tidak. Persoalannya adalah mengapa sebagian orang begitu cepat marah pada simbol, tetapi lambat murka pada korupsi. Bila gerakan mahasiswa Kristen ingin tetap relevan, ia harus memilih, yaitu apakah menjadi suara kenabian yang menggugat kekuasaan, atau menjadi penjaga etika semu

yang sibuk memoles wajah penguasa ketika rakyat sedang menanggung akibat dari kebijakan yang rusak.

Martabat republik tidak runtuh karena presiden diejek. Martabat republik runtuh ketika korupsi dinormalisasi, kritik dibungkam, dan organisasi gerakan kehilangan keberanian untuk berpihak pada kebenaran.

Referensi

Femia, J. (1975). Hegemony and consciousness in the thought of Antonio Gramsci. Political studies, 23(1), 29–48. https://journals.sagepub.com/doi/10.1111/j.1467-9248.1975.tb00044.x  

Goode, L. (2005). Jurgen Habermas: Democracy and the public sphere. Pluto Books. https://www.amazon.com/Jurgen-Habermas-Democracy-European-Thinkers/dp/0745320880 

Gross, J. P. (2015). Education and hegemony: The influence of Antonio Gramsci. Dalam Beyond critique (hlm. 51–79). Routledge. https://www.taylorfrancis.com/chapters/edit/10.4324/9781315635828-3/education-hegemony-jacob-gross 

 

Profil Penulis  

Ruben Cornelius Siagian adalah peneliti muda Indonesia yang aktif menulis kajian sosial-politik, kebijakan publik, demokrasi, konflik, dan etika akademik. Ia juga dikenal sebagai penggerak riset melalui Siagian Global Research (SGR) serta memiliki minat pada isu-isu publik yang berkaitan dengan keadilan, kekuasaan, dan respons masyarakat terhadap persoalan nasional. Opini ini  merupakan refleksi kritisnya atas kecenderungan ruang publik yang lebih mudah ramai oleh hal-hal remeh dibandingkan persoalan serius seperti korupsi.

Berita Terkini

Ojol Memohon, Motor Ditarik: Dishub Jaktim Buka Suara

Sumbawanews.com,- Viral di media sosial, adegan seorang pengemudi ojek online berlutut dan memohon agar motornya tidak diangkut petugas Dishub di Jakarta Timur menjadi sorotan...

Israel dan Hizbullah Setujui Gencatan Senjata

Sumbawanews.com,- Beirut – Setelah berbulan-bulan konflik mematikan di perbatasan Lebanon-Israel, kedua pihak secara resmi menyetujui gencatan senjata yang berlaku mulai pukul 16.00 waktu setempat,...

Pramono dan Cak Imin Hadiri Haul Ulama Betawi di Monas

Sumbawanews.com,- Ribuan jamaah memadati kawasan Monas pada Jumat malam, 19 Juni 2026, dalam acara Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi yang digelar secara khidmat...

Pramono Resmikan Penataan Jalan Rasuna di CFD Pekan Ini

Sumbawanews.com,- Pemerintah DKI Jakarta siap meresmikan hasil penataan Jalan Rasuna Said pada acara Car Free Day (CFD) pekan ini. Menteri BUMN Erick Thohir, yang...

Berita Utama