Sumbawanews.com,- Ribuan jamaah memadati kawasan Monas pada Jumat malam, 19 Juni 2026, dalam acara Haul Akbar Ulama dan Habaib Betawi yang digelar secara khidmat dan penuh kekhusyukan. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar atau akrab disapa Cak Imin, hadir sebagai tokoh negara yang turut menghormati tradisi keagamaan masyarakat Betawi.
Keduanya tiba di lokasi dengan waktu berbeda. Pramono bersama Wakil Gubernur Rano Karno tiba sekitar pukul 19.36 WIB, disambut hangat oleh sejumlah ulama dan habaib yang telah lebih dahulu hadir. Satu jam kemudian, Cak Imin tiba pukul 20.21 WIB, mengenakan kemeja putih dan sarung, senada dengan gaya berpakaian Pramono yang juga memilih busana tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya lokal.
Acara yang berlangsung di bawah langit malam Jakarta itu tidak hanya menjadi ajang ziarah rohani, tetapi juga simbol kebersamaan antara pemerintah dan komunitas keagamaan. Panitia membagi area jamaah secara terpisah antara laki-laki dan perempuan, sambil menyiapkan ruang yang luas untuk menampung ribuan peserta yang datang dari berbagai penjuru Nusantara. Bendera-bendera kecil dan atribut keagamaan menghiasi area acara, menciptakan nuansa kekhidmatan yang khas.
Sejumlah tokoh ulama dan habaib ternama turut hadir, termasuk Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf, Habib Muhammad Rizieq Syihab, Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, Prof. KH Syukron Ma’mun, KH Maulana Kamal Yusuf, KH Mahfudz Assirun, KH Munawir Aseli, KH Muhyidin Ishak, Habib Hud bin Muhammad Bagir Al Athos, Habib Muhsin bin Zeid Al Athos, KH Muhammad Faiz Syukron, Dr. Akhmad H. Abubakar, dan KH Muhammad Luthfi Zawawie. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat makna spiritual acara, tetapi juga menegaskan peran ulama Betawi sebagai penjaga nilai-nilai kearifan lokal dalam bingkai kebangsaan.
Haul ini menjadi salah satu peristiwa keagamaan terbesar di ibu kota tahun ini, sekaligus bukti nyata bahwa tradisi spiritual masyarakat Betawi masih hidup, dihormati, dan bahkan didukung oleh para pemimpin nasional. Di tengah dinamika politik dan sosial yang kian kompleks, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa kebersamaan dalam keragaman tetap menjadi fondasi utama kehidupan berbangsa.

















