Sumbawanews.com,- OpenAI merilis versi khusus ChatGPT untuk remaja berusia 13 hingga 17 tahun, dilengkapi fitur pengawasan orang tua, batasan interaksi emosional, dan mode belajar yang mendeteksi upaya menyontek. Versi ini otomatis aktif bagi pengguna di rentang usia tersebut, sebagai respons terhadap kekhawatiran dampak negatif kecerdasan buatan pada anak muda.
Fitur baru bernama Study Mode memberikan panduan langkah demi langkah dalam menyelesaikan tugas sekolah, sekaligus mengidentifikasi upaya plagiarisme. Orang tua dapat mengatur jadwal penggunaan melalui Study Hours, sehingga mode belajar aktif secara otomatis pada waktu tertentu. Selain itu, sistem menyediakan kuis dan visualisasi pembelajaran untuk memperkuat pemahaman.
Untuk mencegah ketergantungan emosional, ChatGPT versi remaja memblokir percakapan romantis, seksual, atau yang mengeksplorasi perasaan dan kesadaran diri. Sistem juga mengingatkan pengguna untuk tidak membagikan informasi pribadi atau gambar sensitif, serta memberikan panduan penggunaan aman.
Survei Common Sense Media menyebut 72% remaja menggunakan chatbot AI sebagai teman bicara, mendorong OpenAI memperkuat perlindungan ini. Guru matematika SMA di Miami, Racquel Gibson, menilai fitur ini dapat mengisi celah dukungan akademik bagi siswa yang tidak memiliki pendamping di rumah.
Penerapan kebijakan ini didasarkan pada empat prinsip utama: memprioritaskan keselamatan, mendorong dukungan di dunia nyata, memperlakukan remaja sesuai usia mereka, serta menjaga transparansi sistem.















