Sumbawanews.com,- Kinshasa — Wabah Ebola yang kini melanda Republik Demokratik Kongo berpotensi menjadi episentrum paling mematikan dalam sejarah wabah virus tersebut, peringatkan Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Afrika (Africa CDC), Jean Kaseya. Jika tidak segera dikendalikan, krisis ini bisa melebihi skala bencana di Afrika Barat tahun 2014 dan wabah sebelumnya di Kongo timur yang menewaskan lebih dari 11.000 orang.
Data resmi pemerintah pada Selasa (16/6/2026) menunjukkan jumlah kasus konfirmasi telah melonjak menjadi 837, dengan 196 korban jiwa. Namun, angka ini diperkirakan jauh lebih tinggi karena sistem pelacakan kontak kolaps. Kaseya mengungkapkan, lebih dari 26.000 orang yang berpotensi terpapar belum bisa dilacak keberadaannya—sebuah kegagalan kritis yang memperbesar risiko penyebaran tak terkendali.
Respons kemanusiaan terhambat oleh dua faktor utama: minimnya fasilitas perawatan dan resistensi masyarakat terhadap protokol kesehatan yang ketat. Di banyak desa, tradisi penguburan yang melibatkan sentuhan langsung terhadap jenazah—yang tetap sangat menular setelah kematian—menjadi saluran utama penularan. Para petugas Palang Merah memperingatkan bahwa epidemi ini belum mencapai puncaknya, dan jumlah korban bisa terus meningkat tajam dalam minggu-minggu mendatang.
Kondisi ini diperparah oleh ketidakpastian skala sebenarnya dari wabah. Lebih dari sebulan sejak status darurat dinyatakan, pihak berwenang masih kesulitan memetakan penyebaran virus secara akurat. Kekurangan tenaga medis, logistik, dan kepercayaan publik terhadap otoritas kesehatan menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Dalam pertemuan virtual dengan para pemimpin Afrika dan donor internasional di Burundi, Kaseya menyerukan aksi segera dan dana darurat yang signifikan. “Kita tidak bisa menunggu hingga ribuan lagi jatuh. Setiap jam yang terlewat adalah kesempatan bagi virus untuk menyebar lebih jauh,” tegasnya.
Sementara itu, otoritas kesehatan nasional dan organisasi internasional seperti WHO terus berupaya memperkuat kapasitas respons, termasuk mendistribusikan vaksin dan alat pelindung diri. Namun, tantangan geografis, konflik bersenjata di wilayah timur, dan ketidakstabilan politik membuat upaya ini berjalan lambat di banyak lokasi.
Dengan angka kematian yang terus naik dan sistem kesehatan yang hampir kolaps, dunia kini mengawasi Kongo dengan cemas—bukan hanya sebagai krisis lokal, tapi sebagai ancaman global yang bisa meledak kapan saja.















