Sumbawanews.com,- Jakarta – Dalam suasana Idul Adha yang penuh makna, Partai Perindo menggelar penyerahan hewan kurban di kawasan Paseban, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (28/5/2026). Kegiatan yang dihadiri Ketua Umum Angela Tanoesoedibjo dan Ketua Majelis Persatuan Partai (MPP) Hary Tanoesoedibjo ini bukan sekadar ritual keagamaan, tapi menjadi simbol nyata komitmen partai terhadap kebersamaan, keadilan sosial, dan pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Di tengah hiruk-pikuk politik, Partai Perindo memilih jalan yang lebih manusiawi: mendekatkan diri pada rakyat lewat tindakan nyata. Ratusan karkas domba dan sapi yang disembelih secara syariat di lokasi itu dibagikan langsung kepada warga sekitar, termasuk pedagang kecil, lansia, dan keluarga kurang mampu. Tak hanya itu, gerobak-gerobak UMKM mitra Partai Perindo yang telah bermitra selama hampir satu dekade juga ikut hadir, menjajakan makanan dan minuman gratis bagi para penerima kurban.
“Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tapi menyembelih ego,” ujar Hary Tanoesoedibjo. “Ini adalah bentuk kepedulian yang lahir dari nilai keumatan. Kami ingin menunjukkan bahwa partai bisa hadir bukan hanya di gedung parlemen, tapi juga di lorong-lorong kampung, di antara mereka yang sering tak terdengar suaranya.”
Angela Tanoesoedibjo, yang turut langsung membagikan daging kurban, menekankan bahwa keberagaman bukan sekadar slogan. “Di sini, kita lihat warga dari berbagai latar belakang agama, suku, dan profesi berdiri berdampingan. Ada yang menerima, ada yang membantu, ada yang menyumbang. Itulah Indonesia yang sebenarnya—bukan yang diceritakan di media, tapi yang hidup di lapangan,” katanya sambil menyerahkan paket daging kepada seorang ibu penjual keliling.
Ia menambahkan, kehadiran UMKM mitra bukanlah sekadar pelengkap acara. “Gerobak itu sederhana, tapi ia menyimpan cerita panjang: kisah ibu rumah tangga yang bisa berdagang karena dukungan kami, kisah remaja yang belajar usaha dari orang tuanya, kisah ekonomi yang berputar dari bawah. Kurban hari ini adalah bentuk kepedulian yang dirasakan, bukan yang hanya diucapkan.”
Kegiatan ini berlangsung khidmat, diwarnai doa bersama, antrean panjang warga yang menerima paket, dan suara tawa anak-anak yang menikmati hidangan gratis. Tidak ada spanduk politik besar, tidak ada orasi panjang—hanya keikhlasan yang mengalir dari hati ke hati.
Dengan cara ini, Partai Perindo tidak hanya memperingati Idul Adha, tapi juga menghidupkan kembali esensi ajaran agama: berbagi tanpa syarat, menghargai perbedaan tanpa paksaan, dan membangun solidaritas tanpa jarak.
Di tengah maraknya politik identitas, momen di Paseban menjadi bukti bahwa nilai keumatan masih bisa menjadi jembatan—bukan sekat.















