Sumbawanews.com,- Pukul 12.00 siang, udara panas Jakarta Utara tak menyurutkan antusiasme pembeli yang berjejal di depan toko dua lantai di Fresh Market PIK. Di balik etalase berisi bakpao berwarna-warni—ayam jamur, cokelat lumer, ikan cakalang, hingga pandan kacang hijau—berdiri Yusnianti, pemilik Bakpao Gandum by RoyalKueID, yang tak menyangka usaha rumahan yang dimulai dari pesanan teman dan keluarga kini mampu menjual hampir 3.000 biji per hari.
Dua tahun lalu, ia masih memproduksi bakpao di rumah teman, mengandalkan media sosial untuk promosi. “Awalnya cuma 40–50 biji per hari. Kita batasi karena tenaga terbatas,” ujarnya sambil menata kemasan bakpao yang baru keluar dari oven. Kini, lantai atas ruko itu berubah jadi pusat produksi, sementara lantai satu menjadi gerai utama yang ramai sejak pagi. Semua berubah berkat keberanian mengambil langkah besar: menyewa lokasi strategis di PIK pada akhir 2024, setelah melewati proses renovasi dan sertifikasi halal yang menjadi fondasi kepercayaan konsumen.
Kunci keberhasilannya bukan hanya rasa. Yusnianti mengaku belajar banyak dari platform digital yang tak pernah ia bayangkan bisa mengubah hidupnya: LinkUMKM BRI. “Saya nggak punya duit buat ikut pelatihan mahal. Tapi BRI kasih gratis—mulai dari cara bikin konten, strategi jualan online, sampai cara berkolaborasi dengan UMKM lain,” katanya. Dari sana, ia tak hanya belajar memasarkan produk, tapi juga menemukan jaringan yang mengantarkannya ke ajang nasional: dari Imlek Festival hingga bazar di Lemhannas, bahkan ikut catwalk bersama UMKM fashion yang memakai batik, sambil membawa bakpao sebagai oleh-oleh khas.
Di ajang tersebut, ia bertemu Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar yang menantang pelaku UMKM untuk kolaborasi. “Saya bawa bakpao, teman saya bawa baju batik, kita jalan bareng di panggung. Bulu matanya Geovanie, tapi yang penting—kita jadi dikenal,” ujar Yusnianti, tertawa kecil. Kolaborasi itu bukan sekadar pamer, tapi pintu masuk pesanan pre-order yang melonjak.
Omzetnya pun melejit. Dari awalnya hanya ratusan ribu per hari, kini rata-rata mencapai Rp60 juta harian, dengan harga per biji Rp20.000. “Tapi itu belum termasuk expo. Kalau ada event besar, bisa langsung laku 1.000 biji dalam sehari,” tambahnya. Produknya tidak hanya dijual langsung di toko, tapi juga lewat Instagram @bakpaogandum.royalkueid, yang kini jadi saluran utama pemesanan.
Tak hanya itu, ia kini dikelola oleh empat karyawan tetap—sebuah kemajuan yang tak pernah ia bayangkan saat pertama kali mengirim pesan WhatsApp ke teman untuk menawarkan bakpao. “Dulu saya sendiri yang ngemas, ngirim, jawab DM. Sekarang, saya punya tim. Semua berawal dari satu resep, satu pesan, satu keberanian untuk mencoba,” ujarnya.
Direktur Micro BRI Akhmad Purwakajaya menegaskan, LinkUMKM BRI hadir bukan sekadar platform digital, tapi ekosistem pendampingan holistik. “Kami ingin UMKM tidak hanya bertahan, tapi naik kelas—dengan akses pelatihan, permodalan, dan pasar yang terbuka,” katanya. Sementara Koordinator Rumah BUMN Jakarta, Jajang Rohmana, menambahkan, “Setiap senyuman UMKM yang berhasil adalah energi bagi kami. Mereka bukan hanya pelaku usaha, tapi pahlawan ekonomi lokal.”
Di tengah deru lalu lintas PIK, di antara deretan kafe dan toko fashion, Bakpao Gandum by RoyalKueID berdiri sebagai bukti nyata: usaha kecil yang dikelola dengan strategi, kolaborasi, dan ketekunan, bisa tumbuh jadi fenomena—tanpa modal besar, tapi dengan semangat yang tak pernah padam.















