Sumbawanews.com,- Fenomena El Nino diprediksi akan bertahan hingga awal kuartal pertama 2027 dengan intensitas melebihi kategori kuat, memicu risiko kekeringan ekstrem dan kebakaran hutan serta lahan yang semakin mengancam. Untuk mengantisipasi dampaknya, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperluas Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di berbagai wilayah prioritas, sekaligus memperkuat koordinasi respons terpadu dengan seluruh pemangku kepentingan. Hingga pertengahan Juli 2026, 509 dari 939 Zona Musim (ZOM) atau 54,5% luas daratan Indonesia telah memasuki musim kemarau, dengan puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus dan September. Sebagian besar wilayah mengalami hari tanpa hujan hingga 80 hari, terpanjang tercatat di PRH Katerban, Purworejo, Jawa Tengah, sementara 437 ZOM (48,77%) diprediksi mengalami durasi kemarau lebih panjang dari normal. BMKG juga mengingatkan potensi munculnya Indian Ocean Dipole (IOD) Positif pada September hingga Desember 2026 yang berpotensi memperparah kekeringan, dengan curah hujan kategori tinggi baru diperkirakan kembali muncul secara bertahap pada Oktober–November 2026.















