Sumbawanews.com,- Mayoritas perusahaan di Indonesia masih mengandalkan pertahanan siber reaktif, yang hanya bergerak setelah serangan berhasil masuk dan kerugian sudah terjadi. Padahal, ancaman siber kini dipimpin oleh kecerdasan buatan (AI) yang mampu mencari celah secara otomatis dan melancarkan serangan masif dalam hitungan detik. Chief Technology Officer Prosperita Group, Yudhi Kukuh, menegaskan bahwa pola pertahanan konvensional yang pasif dan manual sudah tak lagi relevan menghadapi dinamika ancaman global yang semakin canggih.
Data dari AwanPintar.id mencatat rata-rata 16 serangan siber terjadi setiap detik di Indonesia pada paruh pertama 2026. Sementara itu, Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) melaporkan kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp 9,1 triliun sejak November 2024 hingga Januari 2026—belum termasuk dampak operasional dan reputasi. Kebanyakan perusahaan masih bergantung pada sistem endpoint detection tradisional yang hanya bereaksi setelah file berbahaya berhasil dieksekusi di dalam jaringan, membuat mereka rentan terhadap serangan senyap yang tidak memicu alarm standar.
Untuk mengatasi hal ini, Yudhi menyarankan adopsi pendekatan Managed Detection and Response (MDR), seperti yang ditawarkan ESET, yang memantau ribuan perangkat secara terus-menerus selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Pendekatan ini menggabungkan otomatisasi AI dengan analisis manusia untuk mempercepat deteksi dan respons, sehingga insiden bisa ditangani dalam hitungan menit—bukan jam atau hari. Selain itu, metode Threat Hunting proaktif juga menjadi krusial untuk menelusuri anomali yang lolos dari deteksi otomatis, seperti pembuatan akun administrator tanpa izin atau pergerakan lateral mencurigakan dalam sistem.
Penguatan keamanan siber kini bukan lagi sekadar urusan teknis IT, melainkan pilar wajib kepatuhan hukum di tengah regulasi perlindungan data pribadi yang semakin ketat. Laporan audit keamanan TI yang transparan dan kredibel menjadi syarat mutlak bagi kelangsungan bisnis skala enterprise.















