Sumbawanews.com,- Tiga awak kapal asal India tewas dalam serangan militer Amerika Serikat terhadap kapal tanker MT Settebello di lepas pantai Oman, pada 9 Juni 2026. Insiden ini memicu protes keras pemerintah India terhadap Washington, yang menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap keselamatan maritim internasional.
Menteri Kabinet untuk Kementerian Pelabuhan, Perhubungan Laut, dan Jalur Air India, Sarbananda Sonowal, mengonfirmasi kematian ketiga pelaut tersebut setelah jenazah mereka ditemukan dan diidentifikasi. “Ini adalah tragedi yang sangat menyedihkan,” ujar Sonowal dalam pernyataan resmi, Kamis (11/6). “Kami berduka bersama keluarga korban dan memastikan pemulangan segera jenazah serta awak yang selamat.”
Kapal MT Settebello, yang berbendera Palau, menjadi target serangan udara AS di Teluk Oman. Foto-foto yang beredar menunjukkan kapal tersebut terbakar hebat, dengan asap hitam membubung dari anjungan dan kabin awak. Serangan ini merupakan yang kedua dalam seminggu terhadap kapal dagang dengan mayoritas awak India. Sebelumnya, pada 8 Juni, AS menyerang kapal tanker MT Marivex—juga berbendera Palau—yang menyebabkan evakuasi darurat 24 awak India oleh otoritas Oman.
Kementerian Luar Negeri India segera memanggil diplomat senior AS di New Delhi untuk menyampaikan kecaman resmi. Pemerintah India menuntut klarifikasi mendalam dan menegaskan bahwa serangan terhadap kapal sipil di jalur pelayaran internasional merupakan tindakan yang tidak dapat diterima.
Forward Seamen’s Union of India, serikat buruh maritim setempat, mengunggah rekaman visual evakuasi awak MT Marivex menggunakan helikopter, sambil menyoroti risiko tinggi yang dihadapi pelaut India di kawasan konflik. “Kami tidak lagi bisa diam. Setiap serangan adalah nyawa yang hilang—bukan sekadar kerusakan kapal,” kata perwakilan serikat.
AS belum memberikan penjelasan resmi mengenai alasan serangan terhadap dua kapal komersial tersebut. Namun, laporan awal dari sumber militer AS menyebut kedua kapal diduga terlibat dalam aktivitas yang mengancam keamanan maritim—tanpa menyebut bukti konkret atau keterlibatan pihak ketiga seperti Iran.
Kedua insiden terjadi di kawasan yang kian memanas: Selat Hormuz dan Teluk Oman, yang menjadi jalur strategis bagi perdagangan minyak global. Iran, yang baru-baru ini mengancam akan menutup selat tersebut, menyebut serangan AS sebagai bagian dari “perang ekonomi” terhadap negara-negara yang tidak tunduk pada tekanan Barat. Menurut laporan Iran, 54 awak kapal dari berbagai negara—sebagian besar warga India—telah tewas sejak konflik maritim memburuk pada awal Juni.
Pemerintah India berjanji akan memperkuat perlindungan terhadap warganya yang bekerja di laut internasional. Sonowal menegaskan, “Kami akan bekerja sama dengan negara-negara sahabat untuk memastikan keselamatan maritim. Tidak ada satupun pelaut India yang boleh menjadi korban keputusan politik di lautan yang seharusnya netral.”
Keluarga korban kini menunggu pemulangan jenazah untuk dimakamkan di tanah air. Sementara itu, dunia maritim menanti jawaban dari Washington—apakah serangan itu adalah kesalahan operasional, atau tanda dimulainya eskalasi baru di kawasan yang sudah rapuh.

















