Sumbawanews.com,- Tiga singa betina tewas di Tama Zoological Park, Tokyo, setelah mengalami serangan panas akibat gelombang panas ekstrem dengan kelembapan tinggi. Kematian tersebut terjadi dalam rentang empat hari: satu ekor pada 31 Juli, satu lagi pada 2 Agustus, dan yang terakhir pada 4 Agustus 2026. Menurut juru bicara kebun binatang, dokter hewan menduga ketiga singa meninggal karena heatstroke, didukung oleh tanda-tanda dehidrasi dan kegagalan fungsi organ. Dari 16 singa yang ada, 10 lainnya menunjukkan gejala lemas dan kehilangan nafsu makan sejak pertengahan Juli, dan sebagian masih menjalani perawatan intensif.
Jepang sedang mengalami musim panas terpanas dalam sejarah pencatatan, dengan suhu mencapai 40 derajat Celsius dan kondisi panas menyiksa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Meski singa dikenal tahan terhadap cuaca panas, pihak kebun binatang menekankan bahwa iklim Jepang yang lembap berbeda jauh dari lingkungan kering di Afrika, tempat asal singa. Cuaca ekstrem ini datang tiba-tiba setelah musim hujan berakhir akhir Juli, memaksa petugas meningkatkan upaya perlindungan dengan menyemprotkan air, memperbaiki sirkulasi udara, dan memasang pendingin ruangan.
Kondisi serupa juga melanda manusia: sebanyak 18.600 orang dirawat karena heatstroke antara 20–26 Juli, dengan 45 di antaranya meninggal sebelum sampai ke rumah sakit. Setiap tahun, sekitar 1.300 orang di Jepang tewas akibat cuaca panas, dan pemerintah menargetkan penurunan angka itu hingga separuhnya pada 2030. Para ilmuwan mengaitkan meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia. Rekor suhu tertinggi di Jepang, 41,8 derajat Celsius, tercatat di Isesaki pada 5 Agustus 2025.















