Sumbawanews.com,- St. Petersburg — Dalam upaya memperluas daya tariknya di pasar pariwisata global, Rusia secara strategis memperkuat infrastruktur dan layanan ramah muslim, menjadikan negara berluas 17 juta km² ini sebagai destinasi wisata halal yang semakin serius diperhitungkan. Langkah ini diumumkan secara resmi oleh Vladimir Zatynayko, Direktur Forum Pariwisata Internasional “Let’s Travel!” sekaligus Deputi CEO Roscongress Foundation, pada sesi Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg (SPIEF) 2026.
Zatynayko menekankan bahwa pendekatan Rusia tidak sekadar menambah restoran halal atau ruang shalat di hotel—tetapi mencakup integrasi menyeluruh terhadap kebutuhan spiritual, budaya, dan praktik harian wisatawan Muslim. “Kami menghormati setiap keyakinan. Setiap wilayah di Rusia, dari Moskow hingga Dagestan, menyediakan stan khusus yang menjawab kebutuhan wisatawan dari berbagai latar belakang agama,” ujarnya.
Salah satu terobosan paling signifikan adalah sertifikasi halal yang diterima oleh Roscongress Foundation sebagai penyelenggara acara internasional. Artinya, seluruh acara resmi yang mereka selenggarakan—termasuk pameran, forum bisnis, dan festival budaya—telah disesuaikan dengan prinsip syariah: dari makanan dan minuman, hingga pengaturan ruang terpisah untuk keluarga dan penyediaan layanan keagamaan.
Strategi ini dibangun di atas tiga pilar utama: program bisnis yang menghubungkan wisatawan dengan tokoh politik, seni, dan olahraga; pameran teknologi dan layanan pariwisata yang mendorong kolaborasi B2B dan B2C; serta festival kuliner dan budaya yang terbuka untuk umum, menampilkan kekayaan etnis dan tradisi dari 190 lebih kelompok etnis di Rusia.
Dengan populasi Muslim yang mencapai lebih dari 20 juta jiwa—terutama di wilayah Volga, Kaukasus, dan Siberia—Rusia memiliki fondasi kuat untuk membangun ekosistem wisata halal yang autentik. Namun, fokus utama kini adalah menarik wisatawan dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika, yang selama ini menjadi pasar utama destinasi halal seperti Malaysia, Turki, dan Uni Emirat Arab.
“Kami tidak ingin hanya menjadi alternatif. Kami ingin menjadi pilihan utama,” tegas Zatynayko. “Wisatawan Muslim bukan sekadar konsumen, mereka adalah bagian dari komunitas global yang mencari pengalaman yang tidak hanya aman secara fisik, tetapi juga selaras dengan nilai-nilai hidup mereka.”
Langkah ini sejalan dengan tren global yang menunjukkan pertumbuhan pasar wisata halal mencapai lebih dari US$ 230 miliar pada 2025, dengan proyeksi melampaui US$ 300 miliar pada 2030. Rusia, yang sebelumnya dikenal lebih sebagai destinasi sejarah dan budaya Eropa, kini bertransformasi menjadi pemain kunci dalam industri pariwisata berbasis nilai.
Dengan dukungan pemerintah pusat, investasi infrastruktur, dan komitmen inklusivitas, Rusia tampaknya tidak hanya mengejar jumlah wisatawan—tetapi membangun reputasi sebagai negara yang mampu menyatukan keberagaman dalam satu pengalaman perjalanan yang utuh.

















