Sumbawanews.com,- Para guru dan pensiunan hakim di Meksiko menggelar aksi demonstrasi masif di pusat ibu kota Mexico City, menutup jalan-jalan utama dan mengganggu aktivitas bisnis menjelang pembukaan Piala Dunia 2026. Aksi yang berlangsung pada Rabu (3/6) itu dipimpin oleh serikat guru CNTE, yang menuntut pencabutan undang-undang reformasi pensiun tahun 2007 serta kenaikan gaji yang telah lama dijanjikan namun tak pernah dipenuhi.
Demonstrasi terpusat di dua koridor simbolis: Insurgentes dan Paseo de la Reforma, di mana ratusan guru dan mantan hakim mendirikan tenda-tenda protes, menghalangi lalu lintas, dan memblokir proyek konstruksi terkait persiapan Piala Dunia. Mereka menegaskan, aksi ini tidak terkait dengan turnamen sepak bola, tetapi merupakan respons atas pengabaian komitmen pemerintah terhadap janji kampanye Presiden Claudia Sheinbaum dan pendahulunya, Andres Manuel Lopez Obrador.
“Mereka berbicara tentang keadilan, tapi tindakan mereka hanya menunda keadilan itu,” kata Rodrigo Arias, guru berpengalaman 40 tahun dari Oaxaca yang ikut memimpin aksi di depan Kementerian Dalam Negeri. “Kami tidak akan berhenti meskipun dunia sedang menonton Meksiko di panggung Piala Dunia.”
Aksi ini memicu kemarahan kalangan pengusaha, terutama di kawasan bersejarah pusat kota yang mengandalkan gelombang wisatawan selama turnamen. Gerardo López Becerra, ketua kelompok bisnis Concomercio, memperkirakan lebih dari 10.000 usaha kecil terdampak, dari restoran hingga toko suvenir, yang mengharapkan lonjakan pendapatan dari 1,5 juta pengunjung yang diperkirakan datang.
Piala Dunia 2026, yang akan dibuka di Stadion Azteca pada 11 Juni mendatang, menjadi tuan rumah bersama Amerika Serikat dan Kanada. Namun, bagi para demonstran, momen global ini justru menjadi kesempatan untuk memperkuat suara mereka. “Kami ingin dunia tahu bahwa di balik sorotan lampu stadion, ada guru-guru yang tidak bisa makan layak, dan hakim-hakim pensiunan yang hidup di bawah garis kemiskinan,” ujar salah seorang peserta aksi.
Pemerintah hingga kini belum memberikan respons resmi terhadap tuntutan utama, meskipun sejumlah pejabat telah mengadakan pertemuan tertutup dengan pemimpin serikat. Namun, para demonstran bersikeras: tanpa pencabutan UU pensiun 2007 dan peningkatan tunjangan nyata, aksi akan berlanjut hingga Piala Dunia usai—dan mungkin lebih jauh lagi.

















