Home Berita Internasional RI-Rusia Buru Kolaborasi Infrastruktur Strategis

RI-Rusia Buru Kolaborasi Infrastruktur Strategis

Sumbawanews.com,- Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono menawarkan tiga pilar infrastruktur strategis kepada Rusia dan negara-negara Eurasian Economic Union (EAEU) dalam sesi EAEU-ASEAN Business Forum pada St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026. Dengan latar belakang perdagangan bilateral yang masih rendah—hanya US$27,2 miliar pada 2024—Indonesia mendorong transisi dari dialog ke proyek nyata, dari komitmen ke kemitraan berkelanjutan yang berbasis transfer teknologi dan investasi bersama.

Dalam pidatonya di St. Petersburg, Kamis (4/6/2026), Menko AHY menekankan bahwa Indonesia tidak ingin menjadi sekadar pemasok bahan baku dalam transisi energi global, melainkan aktor penuh dalam penciptaan nilai. Tiga sektor prioritas yang disodorkan mencerminkan ambisi pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.

Pertama, dekarbonisasi transportasi. Indonesia menawarkan kolaborasi dalam pengembangan kereta api listrik, ekosistem baterai, kendaraan listrik, hingga bahan bakar penerbangan berkelanjutan. Ini sejalan dengan target emisi nol bersih pada 2060 dan transisi energi yang berkeadilan.

Kedua, konektivitas jaringan kereta luar Jawa. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sedang membangun koridor kereta api yang menghubungkan Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Proyek ini tidak hanya memperkuat mobilitas, tetapi juga membuka peluang manufaktur bersama dan logistik berbasis kecerdasan buatan.

Ketiga, infrastruktur tahan iklim, termasuk mega proyek tanggul laut raksasa (giant sea wall). Menko AHY menggarisbawahi bahwa lebih dari 90 persen bencana di Indonesia bersumber dari banjir, tanah longsor, dan penurunan permukaan tanah—terutama di pesisir utara Jawa yang mengancam jutaan jiwa dan aset ekonomi strategis. “Ini bukan soal membangun beton, tapi melindungi kehidupan, mata pencaharian, dan masa depan kota-kota pesisir,” tegasnya.

Dorongan ini datang di tengah ketidakstabilan global: rantai pasok yang rapuh, fluktuasi harga energi, dan tekanan pada sistem pangan. Menko AHY menegaskan bahwa ketahanan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang dirancang sengaja—melalui infrastruktur, energi berkelanjutan, dan kemitraan yang tepercaya.

Langkah awal konkret yang diusulkan mencakup empat sektor: infrastruktur hijau dan energi bersih, logistik berbasis AI, teknik ketahanan iklim, serta ekosistem industri maritim. Upaya ini didukung oleh kemajuan perjanjian perdagangan bebas antara ASEAN dan EAEU yang telah ditandatangani Desember 2025 dan kini dalam proses ratifikasi.

Dalam penutup pidatonya, Menko AHY menyampaikan visi geopolitik Indonesia: menjadi jembatan, pembangun, dan penyeimbang. “Mari kita memilih kerja sama daripada fragmentasi, ketahanan daripada kerentanan, dan kemitraan jangka panjang daripada keuntungan sesaat. Kita bangun bukan hanya ekonomi yang kuat, tapi kepercayaan yang lebih kokoh antar bangsa.”

Dengan pendekatan yang menggabungkan kebutuhan domestik dan peluang global, Indonesia menawarkan bukan sekadar proyek, tapi paradigma baru kerja sama infrastruktur di tengah ketidakpastian dunia.

Previous articleCanon Beri Diskon Hingga Rp23 Juta untuk Fotografer dan Mahasiswa
Next articleGuru dan Pensiunan Hakim Meksiko Blokade Ibu Kota Tuntut Kesejahteraan
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.