Sumbawanews.com,- Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyambut positif kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran, yang dinilai sebagai terobosan krusial untuk menstabilkan kawasan Timur Tengah. Dalam pernyataan resmi melalui juru bicaranya, Guterres menilai kesepakatan ini sebagai momen bersejarah yang harus dipertahankan dan diperdalam.
Kesepakatan yang dicapai mencakup gencatan senjata permanen, pembukaan kembali Selat Hormuz—jalur strategis yang mengalirkan 20 persen pasokan minyak global—serta pembentukan mekanisme dialog berkelanjutan antara kedua pihak. Guterres menekankan bahwa langkah ini bukan sekadar berhenti berperang, tetapi memulai proses rekonsiliasi yang sistematis dan berkelanjutan.
Ia juga mengapresiasi peran aktif sejumlah negara kawasan dalam mediasi, termasuk Qatar, Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan Turki, yang dinilai telah memberikan kontribusi diplomatik krusial di balik layar. “Momentum ini harus menjadi titik balik, bukan sekadar jeda sementara,” tegas Guterres, menyerukan agar semua pihak segera mengalihkan fokus dari kekerasan ke diplomasi.
Konflik antara AS dan Iran meletus pada akhir Februari 2026, setelah serangan berskala besar oleh AS dan sekutunya terhadap target di Iran, diikuti balasan Teheran terhadap Israel dan basis militer AS di Teluk. Eskalasi beruntun memicu gangguan serius terhadap arus perdagangan energi, memicu kekhawatiran global akan krisis harga minyak. Meski sempat mencapai gencatan senjata pada April lalu, bentrokan sporadis masih terjadi hingga pekan lalu, sebelum akhirnya kesepakatan komprehensif tercapai.
Guterres menegaskan kesiapan PBB untuk mendukung setiap langkah implementasi, termasuk pengawasan kepatuhan, pemulihan infrastruktur strategis, dan fasilitasi perundingan lanjutan. Ia menambahkan, “Perdamaian yang langgeng tidak dibangun dengan pernyataan, tapi dengan tindakan konsisten dan kepercayaan yang dibangun hari demi hari.”
Kesepakatan ini juga mendapat respons positif dari pasar global, dengan indeks saham Asia melonjak setelah pengumuman resmi. MoU akan ditandatangani di Swiss dalam waktu dekat, sementara Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali dalam 72 jam.
Dengan latar belakang konflik yang berlarut-larut selama puluhan tahun, kesepakatan ini menjadi salah satu pencapaian diplomatik paling signifikan di abad ke-21—dan menjadi ujian besar bagi kemampuan dunia untuk menjaga perdamaian yang rapuh.

















