Sumbawanews.com,- Global menyambut hangat kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang resmi diumumkan pada Minggu, 14 Juni 2026, setelah hampir empat bulan konflik bersenjata yang memperuncing ketegangan di Timur Tengah. Kesepakatan itu tidak hanya menghentikan semua operasi militer secara permanen—termasuk di Lebanon—tetapi juga membuka kembali Selat Hormuz, jalur strategis pengiriman minyak global, serta mencabut blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Langkah ini diprediksi akan menurunkan harga energi dunia dan memulihkan arus perdagangan maritim yang sempat terhenti.
Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, melalui juru bicaranya, menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah penting menuju penyelesaian konflik secara damai.” Ia menekankan pentingnya kerangka negosiasi lanjutan untuk memastikan keberlanjutan perdamaian.
Di Eropa, Prancis, Inggris, Jerman, dan Italia menyatakan pernyataan bersama yang memuji terobosan diplomatik tersebut sebagai “bersejarah.” Mereka mengapresiasi peran mediator seperti Pakistan dan Qatar, serta menyerukan implementasi cepat dan komprehensif. “Kami siap mendukung melalui misi defensif independen—termasuk pembersihan ranjau laut dan pengawalan kapal komersial—sesuai hukum nasional masing-masing,” ujar pernyataan itu. Keempat negara juga menegaskan kembali komitmen mereka: Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Mereka bersedia melonggarkan sanksi jika Teheran mengambil langkah nyata dan terverifikasi untuk membatasi program nuklirnya.
Australia turut menyambut baik kesepakatan itu. Perdana Menteri Anthony Albanese menekankan bahwa semakin lama konflik berlangsung, semakin besar kerusakan ekonomi dan kemanusiaan yang ditimbulkan. “Diplomasi dan penahanan diri adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian abadi,” katanya.
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menyebut kesepakatan itu sebagai “perkembangan penting yang telah lama dinantikan dunia.” Ia berharap langkah ini menjadi awal dari stabilitas jangka panjang di kawasan, namun memperingatkan agar tidak ada provokasi yang bisa menggagalkan kemajuan ini.
India dan Selandia Baru juga menyambut positif. Juru bicara Kementerian Luar Negeri India, Randhir Jaiswal, menyatakan harapan bahwa gencatan senjata ini akan berubah menjadi perdamaian permanen. Sementara Menteri Luar Negeri Selandia Baru, Winston Peters, menilai kesepakatan ini sebagai bukti bahwa dialog tetap menjadi alat paling efektif untuk menyelesaikan konflik berkepanjangan—terutama yang berdampak pada keamanan ekonomi global.
Kesepakatan ini diumumkan resmi oleh Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif pada Senin, 15 Juni, setelah negosiasi intensif yang berlangsung selama berhari-hari. “Kedua pihak telah menyepakati penghentian permanen semua operasi militer, termasuk di Lebanon,” ujar Sharif dalam unggahan di platform X. Penandatanganan resmi dijadwalkan pada 19 Juni di Swiss.
Presiden AS Donald Trump, dalam pernyataan di Truth Social, menyebut kesepakatan ini sebagai “pencapaian besar bagi Amerika Serikat.” Ia secara tegas mengizinkan pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa biaya tol dan mencabut blokade angkatan laut AS. “Kapal-kapal di seluruh dunia, nyalakan mesin Anda. Biarkan minyak mengalir,” tulis Trump, mengisyaratkan dimulainya kembali arus perdagangan energi global melalui jalur yang selama ini menjadi titik rawan konflik.
Dengan dibukanya Selat Hormuz, sekitar 20% pasokan minyak dunia—yang melalui jalur ini—diprediksi akan kembali mengalir bebas, menurunkan tekanan inflasi energi di berbagai belahan dunia. Diplomasi yang berbuah hasil ini menjadi salah satu momen paling krusial dalam hubungan internasional sejak awal dekade ini, sekaligus menguji komitmen global terhadap solusi damai di tengah ketidakpastian geopolitik.

















