Sumbawanews.com,- Mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, resmi bebas dari semua pembatasan hukum setelah mendapat pengampunan kerajaan dari Raja Maha Vajiralongkorn. Departemen Pemasyarakatan Thailand mengonfirmasi pada Selasa (9/6) bahwa alat pemantau elektronik yang selama ini digunakan untuk mengawasi gerak-geriknya telah dilepas, menandai berakhirnya masa percobaan yang telah berlangsung bertahun-tahun.
Pengampunan ini merupakan bagian dari rangkaian keputusan kerajaan yang bertujuan meredakan ketegangan politik dalam negeri sekaligus menunjukkan kembali otoritas monarki dalam urusan hukum dan keadilan. Thaksin, yang pernah memimpin Thailand pada periode 2001–2006 dan kembali berpengaruh lewat keluarganya meski berada di pengasingan, telah menjalani masa pengawasan ketat sejak kembali ke negaranya pada 2023 setelah lebih dari 15 tahun tinggal di luar negeri.
Kembali ke Thailand dalam keadaan terpidana, ia menjalani hukuman percobaan atas sejumlah tuduhan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Namun, dengan pengampunan kerajaan yang dikeluarkan atas saran Dewan Penasihat Raja, semua sisa hukuman dihapuskan, termasuk larangan berpolitik yang selama ini menghalangi kembalinya ia ke kancah kekuasaan.
Meski tidak secara eksplisit menyatakan niat untuk kembali berpolitik, Thaksin dikenal sebagai figur yang tetap menjadi pusat gravitasi politik Thailand. Partai yang didirikannya, Pheu Thai, tetap menjadi kekuatan utama di parlemen, dan keluarganya—termasuk saudara perempuannya, Yingluck Shinawatra, mantan PM yang juga dijatuhkan oleh kudeta militer—tetap aktif dalam dinamika politik nasional.
Pengampunan ini dianggap sebagai langkah strategis oleh istana untuk memperkuat stabilitas politik menjelang pemilu mendatang, sekaligus menenangkan basis pendukung Thaksin yang tersebar luas di kalangan pedesaan dan kelas menengah bawah. Di mata banyak pengamat, keputusan ini bukan sekadar hukum, melainkan politik dalam bentuknya yang paling murni: rekonsiliasi yang diatur dari atas, oleh tahta.
Thaksin kini bebas bergerak tanpa batas—tapi apakah ia akan kembali ke panggung kekuasaan? Itu adalah pertanyaan yang akan terus menggema di seluruh penjuru Thailand.

















