Sumbawanews.com,- Jakarta — Presiden Prabowo Subianto menegaskan prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif dalam pertemuan dengan 17 duta besar negara sahabat yang baru saja menyampaikan surat kepercayaan di Istana Merdeka, Selasa (9/6). Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno mengungkapkan, Presiden menyambut hangat kehadiran para duta besar sebagai simbol komitmen kuat Indonesia untuk memperdalam kerja sama internasional di tengah ketidakpastian global.
“Beliau menyampaikan kegembiraan atas kehadiran para duta besar yang mewakili beragam negara, dari Asia hingga Afrika dan Amerika Latin,” kata Havas dalam konferensi pers usai acara. “Prabowo menekankan bahwa di masa kini, kerja sama bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan—untuk menciptakan tatanan global yang lebih adil, stabil, dan berkeadilan.”
Dalam pesannya, Prabowo menyoroti pentingnya kolaborasi di berbagai sektor: ekonomi, keamanan, teknologi, hingga penanganan krisis kemanusiaan. Ia menekankan bahwa Indonesia siap menjadi mitra yang kredibel dan konstruktif, terutama dalam menanggapi tantangan seperti konflik di Timur Tengah, ketegangan geopolitik, dan ketimpangan pembangunan.
Para duta besar, lanjut Havas, juga menyampaikan pesan hangat dari kepala negara masing-masing, sekaligus menyatakan niat untuk memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia. “Mereka secara khusus menyoroti peran Indonesia sebagai pemimpin di ASEAN dan suara moderat di kancah internasional,” ujarnya.
Daftar duta besar yang menerima surat kepercayaan dari Presiden Prabowo mencakup perwakilan dari Guatemala, Qatar, Kenya, Fiji, Maroko, Portugal, Panama, Korea Utara, dan Mozambik, antara lain. Ini menandai salah satu rangkaian terbesar penerimaan duta besar sejak pemerintahan baru dilantik.
Havas menambahkan, meski sebelumnya ada keterlambatan dalam proses penyerahan surat kepercayaan, Presiden secara pribadi meminta maaf atas keterlambatan tersebut, menunjukkan komitmen pemerintah terhadap tata kelola diplomasi yang transparan dan hormat terhadap protokol internasional.
Dengan langkah ini, Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai negara yang tidak hanya aktif dalam diplomasi, tetapi juga menjadi jembatan antarperadaban—membangun jaringan global yang inklusif, bukan berdasarkan kekuatan, melainkan kepercayaan.

















