Home Berita Internasional NASA Luncurkan Misi Revolusioner Selamatkan Teleskop Swift dari Jatuh ke Bumi

NASA Luncurkan Misi Revolusioner Selamatkan Teleskop Swift dari Jatuh ke Bumi

Sumbawanews.com,- Dalam misi bersejarah yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh Amerika Serikat, NASA bersama perusahaan antariksa swasta Katalyst Space Technologies tengah mengejar waktu untuk menyelamatkan teleskop luar angkasa Swift dari jatuh ke atmosfer Bumi. Peluncuran wahana robotik bernama LINK dijadwalkan paling cepat pada 30 Juni 2026 dari Kepulauan Marshall, Samudra Pasifik, dengan misi krusial: mengangkat orbit Swift dari ketinggian 360 kilometer menjadi 600 kilometer di atas permukaan Bumi.

Teleskop Swift, yang telah beroperasi sejak 2004, mulai kehilangan ketinggian orbit secara cepat akibat peningkatan aktivitas matahari yang memperdalam tarikan atmosfer atas. Tanpa intervensi, teleskop ini diperkirakan akan menembus batas aman 300 kilometer pada Oktober 2026—dan tak bisa diselamatkan lagi. Untuk memperlambat penurunannya, NASA telah mematikan seluruh instrumen ilmiahnya sejak Februari, menghentikan sementara pengamatan astronomi yang selama dua dekade mengungkap ledakan bintang dan semburan sinar gamma.

LINK, wahana otonom seukuran kulkas rumah tangga dengan panel surya sepanjang 12 meter, dilengkapi tiga lengan robotik berujung penjepit mini seperti tangan Lego. Desainnya dirancang khusus untuk menangkap Swift—yang tak pernah dirancang untuk disentuh, apalagi diangkat—tanpa merusak struktur atau sistemnya. Misi ini tak hanya berisiko tinggi, tapi juga tanpa jaminan keberhasilan. “Tidak ada yang mengira ini mungkin dilakukan,” kata Direktur Astrofisika NASA Shawn Domagal-Goldman. “Kami hanya punya dua syarat: cepat, dan jangan merusak.”

Jika berhasil, LINK akan memindahkan Swift ke orbit yang lebih stabil dalam waktu sekitar dua bulan setelah pertemuan, memungkinkan teleskop itu kembali beroperasi pada September 2026. Nilai ilmiahnya tak ternilai: Swift adalah mata pertama NASA yang merespons fenomena kosmik mendadak, dan akan menjadi mitra krusial bagi Teleskop Antariksa Webb dan Roman yang segera beroperasi penuh.

Misi ini juga menjadi tonggak baru dalam industri luar angkasa. Sejauh ini, hanya China yang pernah melakukan operasi serupa—memindahkan satelit pensiun ke orbit baru. Kini, AS mengukir sejarah sebagai negara pertama yang menggunakan robot swasta untuk memperpanjang umur aset ilmiahnya. CEO Katalyst Ghonhee Lee memandang misi ini sebagai awal dari ekosistem perawatan satelit di orbit: dari pengisian bahan bakar, peningkatan orbit, hingga pembangunan fasilitas energi surya di luar angkasa.

“Swift bukan sekadar teleskop. Ini harta nasional,” ujar Kepala Direktorat Misi Sains NASA Nicky Fox. “Kami tidak punya anggaran untuk membangun penggantinya. Jika kami biarkan jatuh, kami kehilangan dua puluh dua tahun pengetahuan—dan potensi masa depan.”

Dengan Hubble yang juga terancam nasib serupa, misi ini membuka pintu bagi penyelamatan teleskop raksasa lainnya—termasuk Hubble, yang pada 2028 bisa menjadi target berikutnya. Dengan teknologi yang kini terbukti mungkin, masa depan satelit bukan lagi soal peluncuran baru, tapi bagaimana menjaga yang sudah ada agar tetap bercahaya.

Previous articleKanada Tembus 16 Besar, Marsch Siap Hadapi Raksasa Bola Dunia
Next articleRoy Suryo Gugat Polda Metro, Sebut Penangkapan Seperti Aksi G30S PKI