Sumbawanews.com,- Pelatih Kanada, Jesse Marsch, menyatakan tekad bulat untuk menghadapi tim-tim raksasa setelah sukses membawa timnya melangkah ke babak 16 besar Piala Dunia 2026. Kemenangan 1-0 atas Afrika Selatan di Inglewood, California, Senin (29/6/2026), bukan sekadar sejarah—ia menjadi kemenangan pertama Kanada di fase gugur Piala Dunia sepanjang sejarah keikutsertaannya.
Gol penentu diciptakan kapten Stephen Eustaquio pada menit 91+2, sebuah momen langka yang menjadi gol kemenangan pertama di fase gugur Piala Dunia setelah menit ke-90 sejak Nacer Chadli untuk Belgia pada 2018. Dengan dominasi penuh—12 tembakan, xG 1,32 berbanding 0,13 lawan—Kanada membuktikan bahwa mereka bukan lagi tim yang hanya ikut-ikutan, melainkan kekuatan yang patut diwaspadai.
Usai pertandingan, Marsch memberikan pidato penuh emosi kepada para pemainnya. “Kalian telah menunjukkan karakter kalian. Sekarang kalian adalah pahlawan Kanada,” ujarnya. “Kalian adalah pahlawan bagi anak-anak masa depan di negara ini. Olahraga ini memiliki masa depan besar karena kalian.”
Marsch, pelatih asal Amerika Serikat yang membangun gaya permainan Kanada dengan disiplin dan pressing tinggi, langsung bersiap untuk tantangan selanjutnya. Ia terbang ke Monterrey untuk menyaksikan laga antara Maroko dan Belanda, yang akan menentukan lawan Kanada di perempat final.
“Saya ingin melihat siapa yang akan kami lawan. Mungkin Belanda, mungkin Maroko—tidak masalah. Yang penting, kami siap menghadapi tim raksasa,” tegasnya. “Kami bukan datang untuk sekadar ikut-ikutan. Kami datang untuk menantang.”
Kemenangan ini sekaligus menutup babak baru dalam sejarah sepak bola Kanada. Sebelumnya, mereka baru saja meraih kemenangan pertama dalam sejarah Piala Dunia saat mengalahkan Qatar di fase grup. Kini, dengan langkah pasti dan semangat tak terbendung, tim yang dipimpin Marsch menjadi simbol kebangkitan sepak bola non-tradisional di kancah dunia.
Babak 16 besar bukan akhir. Ia adalah awal dari mimpi yang kini terasa nyata. Dan Marsch tak ingin berhenti sebelum melihat anak-anak asuhnya melangkah lebih jauh—melewati batas yang selama ini dianggap tak mungkin.















