Home Berita Nasional Madu Trigona Jadi Tulang Punggung Desa Berkelanjutan

Madu Trigona Jadi Tulang Punggung Desa Berkelanjutan

Sumbawanews.com,- Dengan mengalihkan tradisi berburu madu hutan menjadi budidaya terkendali di pekarangan rumah, Program Sustainable Living Village (SLV) di Aceh Singkil berhasil mengubah nasib ratusan petani sekaligus menyelamatkan hutan primer di kawasan Taman Nasional Gunung Leuser. Tidak ada penebangan, tidak ada konversi lahan—hanya lebah trigona yang berkerumun di kotak kayu sederhana, menghasilkan madu murni dan pendapatan stabil bagi keluarga yang dulu bergantung pada perkebunan sawit yang merusak ekosistem.

Program yang digagas Apical Group melalui prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation) ini bukan sekadar inisiatif sosial. Ia adalah strategi rantai pasok berkelanjutan yang menyentuh hulu: petani swadaya. Di tengah tekanan global terhadap minyak sawit yang dianggap merusak lingkungan, SLV menawarkan solusi berbeda—mengganti eksploitasi alam dengan pemberdayaan berbasis ekologi. Di Aceh Singkil, pilihan jatuh pada madu trigona: lebah kecil yang tidak menyengat, tidak membutuhkan lahan baru, dan justru membantu penyerbukan tanaman lokal.

Dalam enam bulan terakhir, enam kelompok tani dari enam desa berhasil memproduksi 279 liter madu trigona dengan nilai penjualan lebih dari Rp80 juta. Uang itu tidak dibagi rata, tapi dihitung berdasarkan kontribusi produksi masing-masing—61 petani menerima hasil sesuai kerja kerasnya. Salah satunya Khaidir, 30, ketua Kelompok Madu Rumbia di Desa Teluk Rumbia. Sejak 2023, ia mengelola 267 stup lebah. Setiap bulan, anggota kelompoknya memperoleh tambahan pendapatan Rp350 ribu hingga Rp500 ribu. Uang itu kini menopang biaya sekolah anak-anaknya dan perlahan memperbaiki atap rumahnya yang bocor.

“Alhamdulillah, bisa sekolahkan anak, bisa bangun rumah sedikit-sedikit. Bahkan bisa pergi ke kota, jumpa pejabat, pasarkan madu sendiri. Itu kebanggaan,” ujar Khaidir, yang juga mengikuti studi banding ke Danau Sentarum, Kalimantan Barat, untuk belajar teknik pemasaran dan pengolahan madu yang lebih profesional.

Kunci keberhasilan SLV bukan hanya pada teknis budidaya, tapi pada kolaborasi multipihak yang langka: Apical Group, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), dan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Mereka bersatu bukan hanya untuk mengajarkan cara memelihara lebah, tapi juga memperkuat legalitas lahan. Lebih dari 800 Surat Tanda Daftar Budidaya (S-TDB) telah diterbitkan bagi petani swadaya, memberi mereka kepastian hukum atas lahan yang selama ini dianggap “ilegal” oleh sistem. Lebih dari 1.000 petani pun telah dilatih dalam praktik perkebunan berkelanjutan (Good Agricultural Practices).

“Ini bukan proyek jangka pendek. Ini tata kelola lanskap,” tegas Anne Fadilla Rachmi, Program Manager IDH. “Perubahan nyata terjadi ketika industri, konservasi, dan masyarakat duduk di meja yang sama—bukan saling menyalahkan, tapi mencari titik temu.”

Titik temu itu ada di Aceh Singkil, wilayah yang menjadi salah satu habitat kritis orangutan Sumatera. YEL, yang sebelumnya memandang sawit sebagai ancaman, kini melihatnya sebagai tantangan tata kelola—bukan komoditas itu sendiri. “Kami bergabung karena visinya sama: menjaga ekosistem tanpa mengorbankan hak hidup masyarakat,” kata Direktur Konservasi YEL, M. Yakob Ishadamy. “SLV membuktikan bahwa konservasi dan kesejahteraan bukan lawan, tapi dua sisi mata uang yang harus dibangun bersama.”

Dengan pendekatan ini, SLV tidak hanya mengurangi tekanan terhadap hutan, tapi juga membangun ekonomi lokal yang mandiri. Petani tidak lagi masuk hutan untuk mencari madu liar—mereka memelihara lebah di rumah, menanam pohon peneduh di lahan restorasi, dan belajar mengelola usaha kecil dengan prinsip pasar global. Sertifikasi keberlanjutan pun menjadi tujuan akhir: agar madu trigona dan produk sawit mereka bisa diterima di pasar internasional yang semakin ketat.

Program ini, yang merupakan bagian dari inisiatif nasional NISCOPS didukung pemerintah Belanda dan Inggris, kini menjadi model yang diujicoba di Malaysia, Nigeria, Kolombia, dan India. Di Indonesia, SLV menunjukkan bahwa solusi berkelanjutan tidak datang dari aturan tinggi, tapi dari akar rumput yang diberdayakan dengan tepat.

Di balik setiap tetes madu trigona, ada cerita: tentang seorang ayah yang bisa menyekolahkan anak, tentang hutan yang bernapas lega, dan tentang industri yang belajar bahwa keberlanjutan bukanlah beban—melainkan peluang.

Previous articleIran Balas Serangan AS dengan Rudal ke Pangkalan Militer di Irak
Next articleTiga Aksi Demo Berlangsung Damai di Jakarta
Avatar photo
Kami adalah Jurnalis Jaringan Sumbawanews, individu idealis yang ingin membangun jurnalistik sehat berdasarkan UU No.40 Tahun 1999 tentang PERS, dan UU No.14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi. Dalam menjalankan Tugas Jurnalistik, kami sangat menjunjung tinggi kaidah dan Kode Etik Jurnalistik, dengan Ethos Kerja, Koordinasi, Investigasi, dan Verifikasi sebelum mempublikasikan suatu artikel, opini, dan berita, sehingga menjadi suatu informasi yang akurat, baik dalam penulisan kata, maupun penggunaan tatabahasa.