Sumbawanews.com,- Piala Dunia 2026 memasuki babak 32 besar dengan kejutan memilukan: timnas Jerman tersingkir setelah kalah dalam adu penalti melawan Paraguay di Boston Stadium, Selasa (30/6) dini hari WIB. Hasil imbang 1-1 usai perpanjangan waktu berakhir dengan kekalahan 3-4 dalam tos-tosan, sekaligus mencatatkan kekalahan pertama Jerman dalam adu penalti sepanjang sejarah Piala Dunia.
Di balik kekalahan itu, muncul laporan bahwa sejumlah pemain Jerman enggan mengambil tendangan penalti saat giliran tiba. Menurut laporan harian Jerman BILD yang dikutip media internasional, empat pemain utama—Leon Goretzka, Waldemar Anton, Nathaniel Brown, dan Malick Thiaw—menolak maju sebagai penendang, meski telah diminta dua kali oleh kapten Joshua Kimmich. Video tayangan ulang menunjukkan Kimmich berbicara intens kepada Goretzka, namun sang gelandang Bayern Munich tetap menunduk dan mundur.
Dengan pilihan yang tersisa terbatas, bek Bayern Munich Jonathan Tah—yang sebelumnya belum pernah mengeksekusi penalti dalam karier profesionalnya—terpaksa maju sebagai penendang keenam. Tembakannya melambung di atas gawang, mengakhiri harapan Jerman. Di sisi lain, Jose Canale sukses menaklukkan Manuel Neuer, memastikan Paraguay lolos ke babak 16 besar.
Sebelumnya, Jerman sempat unggul lewat gol Kai Havertz, tetapi Paraguay menyamakan kedudukan lewat gol balasan di menit ke-89. Dua penendang Jerman, Havertz dan Nick Woltemade, gagal di babak lima penalti awal, diimbangi dua kegagalan dari Antonio Sanabria dan Fabian Balbuena di sisi Paraguay.
Kekalahan ini mengakhiri catatan sempurna Jerman dalam adu penalti Piala Dunia: sebelumnya, Nationalelf selalu menang dalam empat kesempatan (1982, 1986, 1990, dan 2006). Kini, mereka kembali gagal melangkah jauh di fase gugur—terakhir kali menang di babak gugur adalah saat mengalahkan Argentina di final 2014.
Pelatih Julian Nagelsmann mengakui timnya kehilangan keseimbangan mental di momen krusial. “Ini bukan soal teknik, tapi soal keberanian,” ujarnya usai laga. Sementara itu, Presiden Paraguay mengumumkan libur nasional sebagai bentuk perayaan atas keberhasilan timnasnya menyingkirkan salah satu raksasa sepak bola dunia.
Bukan hanya kekalahan teknis, tetapi kegagalan psikologis yang mengguncang fondasi tradisi Jerman: tim yang dikenal disiplin, stabil, dan tak pernah takut menghadapi tekanan, kini terlihat rapuh di ujung tendangan penalti.















