Sumbawanews.com,- Sebuah pernyataan tegas dari jantung militer Iran memperdalam kekhawatiran global akan meledaknya konflik langsung antara Teheran dan Washington. Dalam wawancara eksklusif, Wakil Kepala Komando Militer Pusat Iran, Mohammad Jafar Assadi, menyatakan bahwa negosiasi yang sudah berbulan-bulan berjalan kini telah mencapai jalan buntu—dan bahwa perang bukan lagi kemungkinan, melainkan kemungkinan tak terelakkan.
“Amerika Serikat tidak meminta kesepakatan. Mereka menuntut penyerahan total,” ujar Assadi, mengacu pada tuntutan AS agar Iran menghancurkan seluruh stok uranium yang telah dienrichment. “Bangsa Iran tidak pernah menyerah. Dan jika mereka memaksa, maka perang adalah satu-satunya jawaban yang tersisa.”
Pernyataan itu muncul di tengah ketegangan yang kian memanas. Meski Pakistan berperan sebagai mediator, upaya mencapai kesepakatan nuklir baru gagal total. Washington menuntut penghapusan semua fasilitas pengayaan uranium, sementara Teheran bersikeras bahwa program nuklirnya murni untuk keperluan energi dan medis—bukan senjata. Pernyataan resmi Iran menegaskan: tidak ada ruang untuk kompromi pada kedaulatan teknologi nasional.
Sumber dalam tim negosiasi Iran mengungkapkan kepada Mehr News bahwa pihaknya sedang meninjau ulang proposal akhir AS dengan sangat hati-hati. “Kami tidak lagi percaya pada janji-janji yang diucapkan tapi tidak ditepati,” kata sumber itu. “Pengalaman masa lalu mengajarkan kami: manfaat nyata, bukan kata-kata indah, yang kami butuhkan.”
Ketegangan ini bukan hanya soal diplomasi. Pada 27 Maret lalu, militer Israel melaporkan deteksi rudal yang diluncurkan dari wilayah Iran menuju Israel tengah—sebagian di antaranya menghantam sasaran. Meski tidak ada korban jiwa, insiden itu menjadi indikator nyata bahwa konflik regional telah memasuki fase baru, dengan Iran sebagai aktor utama yang tidak lagi bersembunyi di balik kelompok proxy.
Dengan keputusan Teheran untuk kembali memperkuat persenjataan dan mempercepat persiapan militer, dunia kini menghadapi momen krusial. Diplomasi belum mati, tapi napasnya semakin pendek. Di Teheran, para pemimpin militer percaya: mereka tidak akan pernah meletakkan senjata—kecuali jika AS menghentikan tekanan tanpa syarat.
Dan sampai saat itu tiba, perang bukanlah ancaman. Ia adalah prediksi yang sudah ditulis.















