Home Berita Nasional Prabowo dan Megawati Berjalan Beriringan, PDIP: Sudah Biasa

Prabowo dan Megawati Berjalan Beriringan, PDIP: Sudah Biasa

Sumbawanews.com,- Momen bergandengan tangan antara Presiden Prabowo Subianto dan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri usai upacara Hari Lahir Pancasila di Gedung Pancasila, Jakarta, tak dianggap sebagai kejutan oleh kalangan partai yang dipimpin Megawati. Bagi anggota DPR dari fraksi PDIP, Andreas Hugo Pareira, sikap saling menghormat antara dua tokoh yang pernah bersaing di pilpres itu justru menunjukkan kedewasaan politik yang sudah lama terbangun.

“Saya lihat bukan hal yang luar biasa,” ujar Andreas di Kompleks DPR, Selasa (2/6/2026). Ia menekankan bahwa hubungan antara Prabowo dan Megawati tidak pernah benar-benar putus, meski keduanya pernah berada di kubu berlawanan dalam Pemilu 2014, 2019, hingga 2024.

Kedekatan keduanya bukan hanya terlihat dalam gestur fisik, tapi juga dalam dinamika politik yang terus bergerak. Kala itu, Prabowo dan Megawati pernah menjadi pasangan capres-cawapres pada 2009, sebelum akhirnya bersaing sebagai rival di tiga pilpres berikutnya. Dalam Pemilu 2024, Megawati mengusung Ganjar Pranowo sebagai capres, sementara Prabowo menang bersama Gibran Rakabuming Raka. Di Jawa Tengah, lumbung suara PDIP, pasangan Andika-Hendrar pun kalah dari duet Luthfi-Taj Yasin yang didukung koalisi Prabowo.

Namun, dalam momen upacara Pancasila, ketegangan masa lalu seolah menguap. Setelah menyelesaikan tugasnya sebagai inspektur upacara, Prabowo mempersilakan Megawati berjalan lebih dulu. Namun, Megawati justru menarik lengan Prabowo, menawarkan jalan beriringan. Tersenyum, Prabowo menerima tawaran itu—tanpa kata-kata, tapi dengan sikap yang jelas: saling menghormati.

“Kami berharap hubungan hangat ini memberi manfaat bagi rakyat. Itu yang paling penting,” kata Andreas, yang juga menjabat Ketua DPP PDIP Bidang Organisasi dan Keanggotaan.

Pertemuan itu bukan sekadar simbol. Ia menjadi refleksi dari realitas politik Indonesia yang semakin kompleks: rivalitas elektoral tidak selalu berarti permusuhan institusional. Di tengah polarisasi yang masih menghangat, kehadiran Megawati di sisi Prabowo—meski hanya sejenak—menjadi tanda bahwa kepentingan nasional bisa lebih besar daripada kepentingan partai.

Bagi PDIP, ini bukan kemenangan, bukan pula kekalahan. Ini adalah kebiasaan lama yang kembali hadir: politik yang tidak memisahkan hubungan pribadi dari kepentingan publik. Dan dalam dunia yang sering mempertentangkan, kebiasaan semacam ini justru yang paling langka—dan paling berharga.

Previous articleIran Tolak Menyerah, Perang dengan AS Kian Mengancam
Next article25 Tahun Menunggu, Presidium PPS Ultimatum Pemerintah: Provinsi Pulau Sumbawa Harus Segera Dibentuk
Avatar photo
Jurnalis Jaringan Sumbawanews berkomitmen membangun jurnalistik sehat berlandaskan UU Pers No. 40/1999 dan UU KIP No. 14/2008. Kami menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik dengan mengedepankan koordinasi, investigasi, dan verifikasi untuk menjamin akurasi informasi, integritas penulisan, serta tata bahasa yang baik