Sumbawanews.com,- Sebanyak empat kekuatan Eropa—Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia—menyatakan kesiapan mencabut sanksi ekonomi terhadap Iran, menyusul kesepakatan damai yang dicapai antara Amerika Serikat dan Republik Islam Iran pada Minggu (14/6) waktu setempat. Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa diplomasi kembali menjadi pilar utama dalam menyelesaikan konflik nuklir yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Senin (15/6), para pemimpin keempat negara itu menegaskan komitmen mereka untuk bekerja sama dengan Washington, Teheran, dan Badan Energi Atom Internasional (IAEA) demi memastikan Iran tidak memperoleh senjata nuklir. “Kami siap mendukung langkah-langkah verifikasi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan,” demikian bunyi pernyataan itu, dikutip dari Reuters.
Kesepakatan tersebut, yang diumumkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui platform Truth Social, menyatakan bahwa Iran akan menghentikan semua aktivitas pemperkayaan uranium ke tingkat yang bisa dipakai untuk senjata, sambil menerima pengawasan ketat dari IAEA. Trump juga menginstruksikan pencabutan segera blokade maritim Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, memerintahkan kapal-kapal global untuk “menyalakan mesin” dan memulihkan arus minyak yang selama ini terhambat.
“Dengan ini, saya sepenuhnya mengizinkan pembukaan Selat Hormuz tanpa biaya tol,” tulis Trump. “Blokade militer AS dicabut secara instan.”
Meski detail teknis kesepakatan belum dirilis secara resmi, dan pemerintah Iran belum memberikan tanggapan formal, langkah-langkah konkret dari AS dan Eropa menunjukkan bahwa diplomasi telah berhasil menggeser narasi konfrontasi. Pencabutan sanksi oleh keempat negara Eropa itu diprediksi akan membuka akses bagi investasi asing, pemulihan sektor energi, dan pemulihan ekonomi Iran yang telah lama terpuruk akibat tekanan internasional.
Di sisi lain, keputusan ini memicu ketegangan di kawasan. Israel, yang sebelumnya menolak keras setiap bentuk kesepakatan dengan Iran, dikabarkan tetap dalam status siaga penuh. Sementara di dalam Iran, muncul kecaman dari sebagian kalangan publik terhadap Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, yang dianggap terlalu kompromistis. Namun, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei akhirnya memberikan sinyal dukungan, menegaskan bahwa kesepakatan itu “mengutamakan kepentingan nasional.”
Kesepakatan ini juga menjadi momen penting dalam diplomasi global. Dengan AS dan Eropa yang sebelumnya terpecah dalam pendekatan terhadap Iran kini bergerak selaras, dunia menyaksikan kemungkinan baru bagi stabilitas di Timur Tengah—sekaligus menandai awal dari era baru dalam hubungan antara Teheran dan Barat, yang selama bertahun-tahun dipenuhi kecurigaan dan ketegangan.
Pertemuan formal untuk menandatangani MoU dijadwalkan berlangsung pada Jumat mendatang di Swiss, di mana para diplomat dari keempat negara Eropa, AS, dan Iran diharapkan hadir untuk mengukuhkan kesepakatan dalam bentuk dokumen hukum internasional.

















