Sumbawanews.com,- BMKG menjelaskan bahwa hujan lebat yang mengguyur sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa hari terakhir, meski berlangsung di tengah musim kemarau yang semakin meluas dan indeks El Nino yang terus menguat, bukan kejadian acak. Fenomena ini dipicu oleh interaksi kompleks dinamika atmosfer skala besar yang masih aktif di kawasan tropis.
Di Jabodetabek, curah hujan mencapai puncaknya pada 22 Juni 2026 dengan intensitas 87,8 mm di Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hujan intensitas sedang hingga lebat juga tercatat di Bogor dan Tangerang pada hari-hari sebelumnya. Namun, pola ini tidak terbatas pada pulau Jawa. Di Sumatera, Aceh mencatat curah hujan 101 mm/hari, sementara Sumatera Barat mencapai 120 mm/hari—angka yang jauh di atas rata-rata untuk periode ini. Wilayah lain seperti Kalimantan Tengah, Sulawesi Barat, Jawa Timur, dan Kalimantan Barat juga mengalami hujan signifikan dengan intensitas di atas 50 mm/hari.
Menurut Direktorat Meteorologi Publik BMKG, tiga faktor utama menjadi pemicu hujan di tengah kekeringan: pertama, aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial yang menggerakkan uap air dari Samudra Hindia ke daratan Sumatera; kedua, perambatan Gelombang Kelvin yang membawa energi konvektif dari Sumatera hingga Kalimantan; dan ketiga, sirkulasi siklonik yang terbentuk di Samudra Hindia barat Sumatera serta Selat Makassar, yang memperkuat pertemuan angin dan memicu pembentukan awan hujan.
Kondisi ini diperparah oleh labilitas atmosfer yang masih tinggi di sejumlah daerah, termasuk Aceh, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Tengah dan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, hingga Papua. Labilitas tinggi berarti udara hangat di permukaan dengan lapisan dingin di atasnya, memicu konveksi kuat yang mempercepat pertumbuhan awan cumulonimbus—awan hujan lebat.
BMKG memperingatkan bahwa meskipun secara umum curah hujan di Indonesia pada dasarian III Juni 2026 diprediksi berada pada kategori menengah (55,9 persen) dan rendah (37,39 persen), peluang hujan ekstrem tetap ada di wilayah-wilayah yang terkena dampak dinamika atmosfer tersebut. Prediksi untuk sepekan ke depan menunjukkan bahwa propagasi Gelombang Kelvin akan terus bergerak ke arah Papua Barat Daya, sehingga potensi hujan lebat masih tinggi di pesisir timur Sumatera, Kalimantan, dan sebagian Sulawesi.
“Kemarau yang meluas tidak berarti cuaca benar-benar kering,” ujar BMKG dalam rilisnya. “Di era perubahan iklim, pola hujan menjadi semakin tidak terduga—bisa sangat lokal, sangat intens, dan terjadi di luar musimnya.”
Pola ini menjadi indikasi kuat bahwa perubahan iklim global semakin mengacaukan siklus cuaca tradisional. Meski El Nino cenderung menekan curah hujan, efek lokal dari sistem cuaca skala menengah—seperti gelombang atmosfer dan siklon—masih mampu memicu hujan ekstrem, bahkan di wilayah yang seharusnya mengalami kekeringan. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap banjir, longsor, dan genangan, terutama di daerah rawan bencana.















