Sumbawanews.com,- Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman menegaskan bahwa Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI bukan sekadar ajang kompetisi akademik, melainkan instrumen strategis untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan pada generasi muda. Peninjauannya terhadap babak provinsi di Sulawesi Tengah, Senin (22/6), menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman Pancasila di tengah arus informasi yang kian kompleks.
Dalam kunjungannya ke Birobuli Utara, Palu Selatan, Abcandra menyaksikan antusiasme luar biasa dari pelajar dari sembilan sekolah se-Sulteng yang bersaing ketat dalam tiga sesi penilaian: Wawasan Empat Pilar, Tematik, hingga Rebutan. Ia mengapresiasi semangat para siswa yang, meski berasal dari daerah terpencil, mampu menunjukkan penguasaan materi kebangsaan dengan matang.
“Ini bukan soal siapa yang menang atau kalah, tapi bagaimana nilai-nilai kebangsaan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” ujarnya. Ia menekankan, harapannya bukan hanya para peserta mampu menjawab pertanyaan di atas panggung, tetapi benar-benar menginternalisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam sikap, tindakan, dan keputusan mereka.
Di tengah persaingan, SMAN Model Terpadu Madani Palu keluar sebagai juara provinsi dengan skor 135 poin, mengungguli SMAN 6 Palu (80 poin) dan SMAN 1 Tolitoli (40 poin). Tim ini berhak mewakili Sulawesi Tengah di ajang nasional di Jakarta. Namun, Abcandra mengingatkan bahwa tantangan di tingkat pusat jauh lebih berat, dan kemenangan di tingkat daerah bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari ujian yang lebih berat.
Untuk menjaga integritas lomba, MPR melibatkan juri akademis dari Universitas Tadulako, termasuk Prof. Dr. Aminuddin Kasim dan Dr. Suardi Daeng Mallawa, serta juri dari Dinas Pendidikan Sulteng, Dr. Sintiadewi Mateka. Sistem rekam suara dan teknis penilaian juga diperketat agar setiap keputusan juri bisa dipertanggungjawabkan secara transparan.
Tak hanya fokus pada lomba, Abcandra memanfaatkan kunjungannya untuk berdialog langsung dengan para guru dan siswa tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat. Banyak siswa menyampaikan bahwa program ini telah meringankan beban ekonomi keluarga, memungkinkan anggaran belanja dialihkan untuk kebutuhan pendidikan seperti buku dan seragam. “Mereka menitipkan pesan: jangan hentikan MBG,” katanya.
Namun, ia juga mencatat tantangan pemerataan, terutama di wilayah 3T (Terdepan, Terpencil, Tertinggal) di Sulteng yang aksesnya masih terbatas. Aspirasi ini akan dibawa ke tingkat pusat sebagai masukan evaluasi kebijakan.
Di akhir acara, tiga sekolah—SMAN 1 Wita Ponda, SMAN 6 Palu, dan SMAN 2 Luwuk—dianugerahi juara yel-yel terbaik, menunjukkan bahwa kreativitas dan semangat kebersamaan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari penguatan nasionalisme.
Dengan LCC 4 Pilar, MPR RI tidak hanya membangun generasi yang cerdas, tetapi juga berintegritas—yang mampu membaca sejarah, memahami konstitusi, dan berani menjaga persatuan di tengah keberagaman.















